Rombongan mahasiswa bersama warga sipil menembus penjagaan aparat untuk menggelar unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu siang bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Aksi unjuk rasa tersebut diwarnai dengan pembentangan spanduk serta poster yang berisi berbagai tuntutan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah.
Tuntutan dan Jalannya Aksi di Jakarta
Massa di Bundaran HI membentangkan spanduk bertuliskan ‘All Eyes on Karhutla’ serta ‘Prabowo-Gibran Gagal Total’. Fanda, seorang mahasiswa asal Jakarta, menyatakan dirinya ikut berdemonstrasi karena menilai pemerintah tidak kompeten dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai daerah. Menurutnya, api terus berkobar selama berbulan-bulan dan penegakan hukum terhadap korporat tidak berjalan serius.
Senada dengan itu, Adi selaku pekerja swasta di sekitar lokasi menyebut aksi tersebut sebagai langkah awal untuk menunjukkan bahwa situasi sedang tidak baik-baik saja. Aksi yang diinisiasi oleh Komite Sadar ini mengusung tema “Tepati atau Pergi” serta menggunakan simbol tiga jari atau three-finger salute sebagai bentuk perlawanan.
Komite Sadar membawa lima tuntutan utama, yakni mendesak pemerintah menetapkan status bencana nasional untuk karhutla di Sumatra, Kalimantan, dan Papua serta mengadili korporasi penyebab kerusakan ekologis. Mereka juga menuntut pengelolaan APBN yang berpihak kepada rakyat dengan menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), serta meminta penurunan biaya pendidikan, perbaikan layanan dasar, penindasan KKN, dan penghentian militerisasi ruang sipil.
Sekitar pukul 18.00 WIB, aparat kepolisian mulai memasang barikade dan mendorong pengunjuk rasa menjauh dari Bundaran HI sambil melepaskan gas air mata. Menjelang pukul 19.00 WIB, hujan deras turun dan massa bersama aparat berangsur-angsur meninggalkan lokasi.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan, menyatakan bahwa pemerintahan Prabowo-Gibran terbuka atas berbagai masukan dari masyarakat. Sementara itu, Kasi Humas Polres Metro Jakarta Pusat, Kompol Akhmadi, menyampaikan bahwa sebanyak 14.324 personel gabungan disiagakan untuk mengamankan puluhan kegiatan unjuk rasa di Jakarta.
Unjuk Rasa di Berbagai Daerah
Aksi memperingati Sumpah Pemuda juga serentak digelar di berbagai kota lain di Indonesia. Di Yogyakarta, ribuan massa dari Aliansi Rakyat Yogyakarta memadati Titik Nol Kilometer sejak Rabu sore. Guru Besar Ilmu Hukum UGM, Zainal Arifin Mochtar, yang turut hadir dalam aksi tersebut, mengajak para pemuda untuk meruntuhkan kekuasaan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.
Di Makassar, Sulawesi Selatan, puluhan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin hingga Universitas Negeri Makassar berunjuk rasa di Jalan Flyover Pettarani. Mahasiswa memberikan nilai sebelas dari seratus kepada rezim Prabowo-Gibran selama dua tahun memimpin karena dinilai mengeluarkan kebijakan yang tidak prorakyat.
Aksi unik terlihat di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, di mana sekitar 300 warga yang tergabung dalam Aksi Rakyat Banyumas membawa pocong serta keranda jenazah ke Alun-alun Purwokerto. Koordinator ARB, Budi Ari Artanto, mendesak agar program Universal Health Coverage (UHC) di daerah tersebut diaktifkan kembali. Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono akhirnya menemui massa dan menandatangani pakta integritas untuk mengaktifkan kembali UHC paling lambat pada 28 Oktober 2026.
Sementara itu di Malang, Jawa Timur, mahasiswa yang mengenakan pakaian serba hitam menggelar aksi di depan Balai Kota dan DPRD Kota Malang di tengah guyuran hujan. Mereka membawa enam tuntutan termasuk pemadaman karhutla, penurunan harga bahan pokok dan biaya pendidikan, serta menyerukan pengusutan tuntas tragedi Kanjuruhan.
Sumber: BBC News Indonesia








