Pendidikan

Wamensos dan Habib Ja’far Bekali SDM Sekolah Rakyat

Wamensos dan Habib Ja’far Bekali SDM Sekolah Rakyat

Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono bersama pendakwah Habib Husein Ja’far Al Hadar memberikan pengarahan kepada sekitar seribu sumber daya manusia Sekolah Rakyat di Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (5/11) malam. Agenda pembekalan ini bertujuan memperkuat tata cara pengasuhan dan pendampingan bagi para siswa dari latar belakang keluarga kurang mampu.

Peserta yang hadir mencakup guru bimbingan konseling, pengasuh asrama, wali asuh, petugas keamanan, hingga pengelola sistem data dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Habib Ja’far menekankan pentingnya bagi para pendamping untuk memahami latar kehidupan anak sebelum memberikan penilaian atas perilaku mereka. Menurutnya, tindakan bermasalah pada siswa umumnya berakar dari pengalaman traumatis serta dinamika keluarga.

“Kenakalan mereka itu bukan muncul dari kebencian mereka, tetapi bisa muncul dari trauma,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (6/11).

Habib Ja’far mengimbau para tenaga pendamping membangun interaksi yang erat dengan para murid melalui komunikasi yang intens dan rasa empati. Pendekatan sosial tersebut dinilai krusial agar para pengajar tidak bertindak gegabah dalam merespons sikap siswa.

“Sering-seringlah ngobrol bersama mereka, sampai anda bisa merasakan pahit getir posisi mereka. Agar anda tidak gampang marah kepada mereka,” pesan dia.

Prinsip Pengasuhan dan Pencegahan Kekerasan

Habib Ja’far mengingatkan bahwa tugas mendampingi siswa Sekolah Rakyat merupakan bentuk pelayanan kemanusiaan yang menuntut ketulusan serta keahlian. Mengutip Surah Al-Ma’un ayat 1 dan 2, ia menekankan bahwa pengelolaan lembaga pendidikan ini secara tidak sungguh-sungguh dapat merugikan masa depan anak-anak dari golongan kurang mampu.

“Tahukah kamu pendusta agama? mereka yang bermain dengan nasib orang miskin. Mereka yang tidak profesional dalam mengelola Sekolah Rakyat (berarti) itulah pendusta agama. Sehingga anda sekarang mau lompat ke neraka atau ke surga semua tergantung bagaimana memposisikan niat di Sekolah Rakyat,” paparnya.

Selain mengingatkan soal niat, Habib Ja’far memaparkan tiga pijakan utama dalam mendidik, yakni penanaman akhlak, penciptaan kompetisi yang sehat melalui beragam kegiatan, serta pemberian contoh perilaku yang baik. Ia juga menggarisbawahi perlunya lingkungan belajar yang aman dan terbebas dari segala tindakan perundungan maupun pelecehan.

“Sekolah yang baik adalah sekolah yang tidak pernah memberikan toleransi terhadap bullying, pelecehan dan terhadap segala hal-hal buruk yang tidak seharusnya ada di sekolah. Itu kuncinya,” kata dia.

Penerapan Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Dalam kesempatan yang sama, Agus Jabo meminta seluruh jajaran Sekolah Rakyat menerapkan konsep pendidikan klasik karya Ki Hadjar Dewantara, yaitu momong, among, dan ngemong.

“Momong itu mengasuh dengan kasih sayang. Among mendidik melalui keteladanan. Ngemong membimbing dan mengembangkan potensi anak,” tuturnya.

Wamensos menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat memadukan kurikulum formal, pembinaan mental, dan pemulihan sosial. Langkah ini selaras dengan upaya pemerintah dalam menekan tingkat kemiskinan sebagaimana tercantum pada Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025. Siswa Sekolah Rakyat berasal dari kelompok masyarakat miskin dan miskin ekstrem yang sering kali mengalami keterbatasan pemenuhan kebutuhan mendasar hingga kurangnya figur teladan di rumah.

Oleh sebab itu, Agus Jabo menegaskan bahwa pola pengasuhan harus berlangsung secara menyeluruh dalam kegiatan harian, bukan sekadar di dalam ruang kelas. Seluruh personel di sekolah dituntut menjadi contoh positif bagi para peserta didik.

“Mereka tidak punya figur karena di rumah, orang tuanya sibuk mempertahankan kehidupan ekonomi dan anak tidak dapat perhatian. Mereka butuh idola di Sekolah Rakyat, makanya harus hati-hati sekali berperilaku di depan anak di Sekolah Rakyat,” kata Agus Jabo.

Setiap jajaran sekolah memiliki fungsi spesifik: guru memfokuskan pada aspek akademis dan keteladanan, pengasuh asrama menegakkan kedisiplinan serta kemandirian, sedangkan wali asuh mencurahkan perhatian dan kasih sayang. Menurut Agus Jabo, keberhasilan program ini diukur dari terbentuknya kepribadian yang mandiri sehingga para siswa mampu membebaskan keluarganya dari jerat kemiskinan.

“Sehingga kemiskinan yang diresahkan oleh Bapak Presiden selama ini, melalui Sekolah Rakyat bisa dientaskan dan kemiskinan ekstrem bisa diselesaikan,” pungkas dia.

Sesi pembekalan berlangsung dalam suasana hangat yang diselingi dengan diskusi interaktif serta penuturan pengalaman peserta. Acara tersebut turut dihadiri oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Sosial Muhammad Hasan Chabibie, Plt. Pusdiklat Afrizon Tanjung, serta jajaran pejabat Kementerian Sosial.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *