Nasional

BNPB Catat 7 Bencana Baru, Total Jadi 2.285 Kejadian

BNPB Catat 7 Bencana Baru, Total Jadi 2.285 Kejadian

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat penambahan tujuh kejadian bencana baru di Indonesia hingga Selasa (3/11/2026). Peristiwa tersebut mencakup bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla), banjir, serta cuaca ekstrem yang melanda beberapa wilayah.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan bahwa tambahan laporan ini membuat keseluruhan bencana alam sepanjang 2026 mencapai 2.285 kejadian. Berdasarkan pemaparan Berton dalam konferensi pers di Jakarta, dua peristiwa karhutla terjadi di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, serta Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Sementara empat kejadian banjir menerjang Kabupaten Deli Serdang di Sumatra Utara, Kabupaten Lumajang dan Malang di Jawa Timur, serta Kabupaten Pidie Jaya di Aceh. Adapun bencana cuaca ekstrem dilaporkan terjadi di Kabupaten Dairi, Sumatra Utara.

Penanganan Karhutla di Enam Provinsi Prioritas

Saat ini BNPB memfokuskan penanganan karhutla pada enam provinsi prioritas. Berton menjelaskan adanya perubahan luas lahan terdampak di sejumlah daerah. Di Papua Selatan, luas area terdampak tercatat 455 hektare atau mengalami penurunan 25 persen, wilayah Nusa Tenggara Timur turun menjadi 14 persen, dan Sulawesi Tengah menjadi 89 hektare atau berkurang 4 persen. Sebaliknya, kenaikan terjadi di Kalimantan Tengah hingga mencapai 547 hektare atau naik 56 persen, serta Kalimantan Timur sebesar 60 hektare atau melonjak 80 persen. Sementara itu, luas lahan terdampak di Sulawesi Tenggara tercatat mencapai 91 hektare.

Meski hujan sempat mengguyur Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur, potensi munculnya titik api baru tetap ada karena keberadaan lahan gambut. Berton menuturkan bahwa api di permukaan tanah telah padam, namun bara api di bawah permukaan masih menyala. Untuk mendukung pengendalian karhutla, BNPB menyiagakan 51 unit pesawat dan helikopter yang terdiri atas 30 unit untuk pengeboman air (water bombing) serta 21 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Penyebaran Garam dan Dry Ice Lewat Modifikasi Cuaca

Rekayasa cuaca dilaksanakan BNPB di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Sumatra Selatan dengan total penyebaran bahan mencapai 19.500 kilogram garam (NaCl) dan dry ice. Di Kalimantan Tengah, sebanyak 10.600 kilogram bahan disebarkan dalam enam sorti penerbangan yang memicu hujan di Palangka Raya, Sukamara, Katingan, Kotawaringin Timur, Seruyan, Kotawaringin Barat, Gunung Mas, hingga kawasan Taman Nasional Tanjung Puting. Di Kalimantan Selatan, penyemaian 1.800 kilogram NaCl melalui dua sorti memicu hujan di Banjarbaru, Banjarmasin, Tanah Laut, dan Tanah Bumbu. Sedangkan di Sumatra Selatan, empat sorti penerbangan menyebar 5.600 kilogram NaCl yang mendatangkan hujan di Palembang, Muara Padang, dan Banyuasin.

Langkah OMC juga diterapkan di Papua Selatan dengan menyebarkan 20.000 kilogram NaCl melalui 20 sorti penerbangan, di mana penyemaian dilakukan satu hingga dua sorti setiap hari tergantung ketersediaan awan. Pertumbuhan awan di bagian tengah dan utara Papua Selatan dinilai memadai untuk operasi modifikasi cuaca. Namun, rekayasa cuaca belum dapat dilakukan di bagian selatan karena minimnya bibit awan air, meskipun sebaran titik panas terdeteksi di wilayah timur dan selatan daerah tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *