Nasional

Lemhannas Ajak Insan Pers Bangun Jurnalisme Kebangsaan

Lemhannas Ajak Insan Pers Bangun Jurnalisme Kebangsaan

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) Ace Hasan Syadzily mengajak insan pers membangun jurnalisme kebangsaan untuk mengawal Indonesia Emas 2045. Ajakan tersebut disampaikan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Forum Wartawan Kebangsaan (FWK) 2026 di Jakarta Pusat.

Perspektif Geopolitik dan Ketahanan Nasional

Menurut Ace, persoalan pers perlu dilihat dalam kerangka geopolitik dan ketahanan nasional karena dunia saat ini diwarnai oleh persaingan narasi di samping persaingan ekonomi serta militer, seperti dilaporkan detikcom. Ia mengimbau seluruh insan pers untuk mengembangkan jurnalisme yang kritis karena didasari cinta pada bangsa, independen atas dasar tanggung jawab kepada publik, berani berpijak pada fakta, serta profesional karena tunduk pada etika.

Dalam paparannya, Ace memaparkan bahwa peran pers dalam mengawal bangsa menuju Indonesia Emas 2045 dapat diamati melalui tiga sudut pandang, yakni geopolitik, ketahanan nasional, serta Wawasan Nusantara. Dari sisi geopolitik, peran pers tidak terpisahkan dari persaingan pengaruh di ruang informasi, sementara dari sisi ketahanan nasional, informasi yang akurat, berimbang, dan tepercaya merupakan bagian penting dari ketahanan bangsa.

Sementara itu, dari sudut pandang Wawasan Nusantara, wartawan perlu memandang Indonesia sebagai satu kesatuan yang utuh mencakup bidang politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan dan keamanan. Oleh sebab itu, peran pers wajib berpegang pada empat konsensus dasar bangsa, yaitu Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta menempatkan pers sebagai kekuatan strategis nasional.

Ace menjelaskan bahwa inti dari peran tersebut adalah bagaimana pers bertindak sebagai kekuatan strategis yang menjaga kualitas informasi, memperkuat persatuan, mengawal demokrasi, mencerdaskan kehidupan bangsa, serta memastikan transformasi nasional tetap berakar pada kepentingan nasional. Melalui jurnalisme kebangsaan, pers mampu mengkritik kebijakan tanpa merusak persatuan, mengungkap penyimpangan tanpa menghakimi secara tidak berdasar, serta menyampaikan perbedaan tanpa memperbesar permusuhan.

Pergeseran Fungsi dan Tantangan Digital

Pada kesempatan yang sama, Ace menekankan pentingnya nalar kritis serta independensi media yang perlu terus dijaga di tengah pergeseran fungsi pers akibat perubahan lingkungan strategis dan perkembangan media digital. Ia menilai tantangan pers saat ini bukan lagi sebatas teknik jurnalistik, melainkan sudah memasuki wilayah strategis yang berkaitan langsung dengan kualitas demokrasi, ketahanan sosial, serta ketahanan nasional.

Mengutip pandangan Yochai Benkler, Robert Faris, dan Hal Roberts, Ace menyebutkan bahwa lingkungan komunikasi digital berpotensi melahirkan pola propaganda, disinformasi, dan polarisasi. Oleh karena itu, ia menegaskan agar wartawan mampu memahami tidak hanya isi suatu informasi, melainkan juga asal-usulnya, jaringan penyebarannya, kepentingan di baliknya, serta cara informasi tersebut diperkuat dan disebarluaskan.

Ke depan, tugas pers tidak sekadar menyampaikan berita, tetapi juga membantu masyarakat memahami peristiwa yang terjadi, latar belakang kejadian, dampak yang ditimbulkan, serta kaitan antarberbagai fakta. Acara tersebut turut dihadiri oleh Deputi PPNK Lemhannas RI Mayor Jenderal TNI Raden Djaenudin Slamet beserta jajaran pejabat struktural Lemhannas RI, Founder FWK Hendry CH Bangun, para pemimpin redaksi, serta wartawan nasional dan daerah.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *