Ekonomi

Perjuangan Eva Cari Kerja, Tolak Menyerah Lewat Bisnis Kue

Perjuangan Eva Cari Kerja, Tolak Menyerah Lewat Bisnis Kue
Daftar Isi
  1. Berburu Lowongan dan Pelatihan Kerja
  2. Mengincar Magang dan Tantangan Pasar Kerja
  3. Berwirausaha Sembari Menunggu Kepastian

Pameran kerja di Gedung SMESCO, Jakarta Selatan, dipadati oleh pencari kerja dari berbagai kalangan usia pada siang hari. Di tengah kerumunan tersebut, Eva (24) menyusuri setiap stan seorang diri untuk mencari peluang kerja yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Berburu Lowongan dan Pelatihan Kerja

Lulusan S-1 Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I ini mendatangi berbagai stan mulai dari sektor ritel, perbankan, hingga layanan kesehatan. Kepada Liputan6.com pada Sabtu (24/10/2026), Eva mengatakan bahwa ia tidak membatasi sektor perusahaan selama posisinya sesuai dengan jurusannya sebagai perekrut sumber daya manusia atau tenaga administrasi.

Sebelum mendatangi pameran kerja tersebut, Eva membawa brosur pelatihan kerja gratis dari Pusat Pelatihan Kerja Daerah. Langkah ini ia ambil setelah melamar pekerjaan secara daring sejak April lalu, mengikuti bursa kerja daring, serta membeli kelas sertifikasi secara mandiri.

Ia juga sempat dua kali mendaftar program Magang Hub Kementerian Ketenagakerjaan namun berujung penolakan, sementara usahanya mengikuti pelatihan pemasaran digital di balai latihan pemerintah kandas di tahap seleksi.

Proses panjang dan penolakan yang ia alami meninggalkan kelelahan psikologis. Menurut pengakuannya kepada Liputan6.com, ia sempat merasa hilang arah dan takut menghadapi wawancara kerja, namun tetap bersemangat mengikuti pelatihan demi menambah keterampilan.

Selain itu, ia juga mengeluhkan proses rekrutmen yang panjang tanpa kepastian, di mana penolakan kerap baru disampaikan menjelang penutupan proses seleksi meskipun ia telah melalui tahap psikotes.

Mengincar Magang dan Tantangan Pasar Kerja

Tingginya persaingan membuat Eva kerap menanyakan lowongan magang atau posisi bagi lulusan baru tanpa pengalaman. Situasi pasar kerja saat ini semakin ketat akibat gelombang pemutusan hubungan kerja yang membuat para pekerja berpengalaman turut bersaing memperebutkan posisi serupa.

Padahal, Eva sebenarnya memiliki pengalaman magang selama tiga bulan di bagian administrasi Direktorat Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan RI saat kuliah. Meski demikian, ia merasa pengalaman tersebut belum cukup dan berencana mencoba kembali mendaftar program Magang Hub gelombang ketiga pada akhir bulan ini.

Berwirausaha Sembari Menunggu Kepastian

Sebagai anak pertama, Eva merasakan tekanan moral dari keluarga untuk segera bekerja di kantor. Namun, ia memiliki prinsip bahwa bekerja bisa dilakukan di bidang apa saja asalkan halal dan menghasilkan, sehingga ia memilih untuk tidak berpangku tangan mengandalkan orang tua.

Di sela-sela waktunya mencari pekerjaan, ia menjalankan usaha kuliner dari rumah dengan membuat kue bolu pisang serta meracik aneka minuman segar seperti mango sago, jus alpukat, kopi susu, dan matcha stroberi kemasan botol.

Produk olahan tersebut ia titipkan di toko obat milik orang tuanya di Pasar Pramuka, Jakarta Timur, serta dijual secara mandiri di kawasan Sudirman saat kegiatan hari bebas kendaraan bermotor pada akhir pekan.

Meski merasa lelah melihat teman-temannya yang sudah bekerja, Eva tetap menjalani situasi tersebut dengan lapang dada dan meyakini bahwa setiap orang memiliki jalur kesuksesan masing-masing.

Ia terus melangkah dari satu stan ke stan lainnya dengan membawa kurikulum vitae, surat keterangan lulus, dan transkrip nilai, sembari berharap kerja kerasnya berbuah hasil.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *