Teknologi

Alasan Penolakan Pusat Data Makin Masif di Berbagai Negara

Alasan Penolakan Pusat Data Makin Masif di Berbagai Negara
Daftar Isi
  1. Pertumbuhan Pesat dan Sebaran Global
  2. Dampak Lingkungan dan Tekanan Energi
  3. Argumen Ekonomi dan Solusi Masa Depan

Pusat data yang menopang aktivitas internet serta perkembangan kecerdasan buatan (AI) kini menghadapi penolakan yang semakin masif di berbagai belahan dunia. Pertumbuhan fasilitas raksasa ini memicu gelombang protes karena konsumsi listrik yang sangat tinggi, dampak lingkungan, serta tekanan terhadap sumber daya air di wilayah setempat.

Pertumbuhan Pesat dan Sebaran Global

Menurut pemantauan Data Center Map, terdapat sekitar 12.250 pusat data di seluruh dunia, meningkat tajam dari angka sekitar 8.000 lokasi pada 2021. Amerika Serikat memimpin dengan 4.767 lokasi, disusul oleh Inggris dan Jerman. Dalam hal kapasitas aktual, Amerika Serikat juga unggul jauh diikuti oleh China di posisi kedua, sementara Eropa tertinggal di belakang dan dikhawatirkan berisiko kehilangan potensi manfaat ekonomi dari perkembangan AI.

Fasilitas ini mulanya banyak dibangun di dekat perkotaan untuk memudahkan akses listrik tegangan tinggi dan sumber air pendingin, namun kini semakin meluas ke wilayah pedesaan seiring bertambahnya skala. Ukurannya pun beragam, mulai dari yang menempati gudang hingga kawasan amat luas seperti fasilitas milik China Telecom di Hohhot, Mongolia, yang mencapai satu juta meter persegi. Proyek-proyek baru yang lebih besar seperti Colossus 2 di Amerika Serikat juga terus dibangun untuk melatih chatbot xAI, Grok, menggunakan ratusan ribu chip AI Nvidia serta puluhan turbin gas metana.

Dampak Lingkungan dan Tekanan Energi

Kebutuhan operasional pusat data memicu kekhawatiran besar karena menghabiskan air dalam jumlah masif untuk mendinginkan sistem, yang dikhawatirkan memicu kelangkaan air minum. Konsumsi listrik global untuk fasilitas ini bahkan diperkirakan melampaui penggunaan listrik di seluruh negara Prancis. Lonjakan kebutuhan energi ini turut mendongkrak emisi karbon, membebani jaringan listrik lokal, serta memicu kekhawatiran kenaikan harga energi bagi warga sekitar.

Selain isu lingkungan dan kebisingan, persoalan tata ruang juga memperkuat reaksi negatif masyarakat. Sekitar 16 negara bagian di Amerika Serikat telah mengusulkan undang-undang untuk melarang atau menghentikan sementara pembangunan fasilitas baru. Penolakan serupa juga mulai bermunculan di negara-negara lain seperti Meksiko, Prancis, Indonesia, dan Inggris.

Argumen Ekonomi dan Solusi Masa Depan

Di sisi lain, para pendukung pusat data berpendapat bahwa infrastruktur ini vital untuk keamanan nasional serta pengembangan kecerdasan buatan. Fasilitas tersebut dinilai mendatangkan manfaat ekonomi melalui investasi, penerimaan pajak, dan pembukaan lapangan kerja, terutama pada fasilitas skala besar atau “hyperscale” milik raksasa teknologi seperti Amazon dan Microsoft.

Industri teknologi sendiri diperkirakan akan menggelontorkan US$765 miliar untuk infrastruktur AI tahun ini, dan angka itu diproyeksikan menembus US$1 triliun pada 2027. Di tengah meningkatnya tekanan lingkungan, industri teknologi mulai menjajaki sejumlah alternatif, seperti membangun pusat data di luar angkasa atau di Bulan untuk memanfaatkan energi surya secara maksimal, serta mengalihkan sebagian pemrosesan AI langsung ke komputer dan ponsel cerdas pengguna.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *