Nasional

Karhutla di Kawasan Karst Pangkep Belum Padam Usai 22 Hari

Karhutla di Kawasan Karst Pangkep Belum Padam Usai 22 Hari
Daftar Isi
  1. Fokus Pemantauan dan Titik Kebakaran
  2. Kendala Medan dan Penanganan di Lapangan
  3. Lokasi Dekat Situs Prasejarah

Kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan, telah berlangsung selama 22 hari. Hingga saat ini, api belum dinyatakan padam sepenuhnya meskipun kondisinya sudah terkendali.

Fokus Pemantauan dan Titik Kebakaran

Komandan Regu 1 Pangkajene, Muhammad Ikfar, menyatakan bahwa penanganan karhutla saat ini difokuskan pada pemantauan guna mengantisipasi kemunculan kembali titik api. Hal tersebut dipengaruhi oleh intensitas hujan di wilayah Pangkep yang masih rendah sehingga masih terdapat kemungkinan api kembali menyala, seperti dilaporkan CNN Indonesia.

Kebakaran melanda sejumlah lokasi di zona inti dan zona rimba kawasan Taman Nasional. Wilayah tersebut mencakup Kelurahan Minasatene, Kelurahan Kalabirang, serta Desa Panaikang di Kecamatan Minasatene, dan Kelurahan Balocci Baru, Kelurahan Kassi serta Kelurahan Jenai di Kecamatan Balocci.

Titik-titik api dilaporkan muncul pada waktu yang berbeda. Kebakaran pertama tercatat pada 30 September di Kampung Bulu, Kelurahan Minasatene, disusul kemunculan titik api di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, pada 10 Oktober, serta titik api terakhir di Kampung Mattubbu, Desa Panaikang, Kecamatan Minasatene, pada 22 Oktober.

Kendala Medan dan Penanganan di Lapangan

Meskipun titik api terakhir terpantau pada 22 Oktober, petugas belum berani menyatakan kebakaran padam sepenuhnya karena lokasi api berada di puncak kawasan karst yang sulit dijangkau. Medan yang terjal serta ketiadaan akses jalan menuju puncak karst menjadi hambatan terbesar dalam proses pemadaman.

Petugas di lapangan memilih untuk tidak mengambil risiko mendaki ke puncak karst mengingat tidak tersedia akses yang memadai serta peralatan panjat yang tidak direkomendasikan saat terjadi kebakaran. Oleh karena itu, operasi pemadaman dikonsentrasikan pada bagian kaki karst dan tebing yang berpotensi merembet ke permukiman penduduk.

Operasi penanganan karhutla ini melibatkan puluhan personel gabungan yang berasal dari Dinas Pemadam Kebakaran Pangkep, Damkar PT Semen Tonasa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Pangkep, kepolisian, serta unsur TNI dari Koramil setempat. Guna mengatasi masalah ketersediaan air di beberapa lokasi, tim gabungan mengerahkan mobil tangki air milik Damkar Pangkep dan PT Semen Tonasa.

Lokasi Dekat Situs Prasejarah

Peristiwa kebakaran ini turut menjadi sorotan karena lokasinya berada di dekat kawasan situs lukisan prasejarah di wilayah Maros-Pangkep. Jarak antara titik kebakaran dengan situs tersebut berkisar antara 800 meter hingga satu kilometer.

Api dipastikan tidak mencapai area situs prasejarah tersebut, meskipun lokasi sekitar sempat berpotensi terdampak oleh kepulan asap kebakaran. Sementara itu, pihak berwenang masih melakukan penyelidikan mendalam untuk mengetahui secara pasti penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *