Daftar Isi
Lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat konflik di Timur Tengah berdampak langsung pada sektor transportasi di kawasan Asia Selatan. Di tengah ancaman gangguan pasokan minyak di Selat Hormuz, semakin banyak warga beralih ke sepeda motor listrik buatan China yang dinilai murah dan praktis.
Lonjakan Ekspor dan Efisiensi Biaya
Berdasarkan data bea cukai China, pengiriman skuter listrik siap pakai ke India pada Agustus naik hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada bulan yang sama, ekspor motor listrik ke Pakistan melonjak sebesar 291 persen, sementara pengiriman ke Bangladesh melesat hingga 553 persen.
Guncangan harga minyak sangat dirasakan Bangladesh yang menggantungkan 95 persen pasokan bahan bakar dari impor. Direktur Divisi Rancon Motors di Dhaka, Imran Zaman Khan, menceritakan kepada BBC News Indonesia bahwa warga sempat mengantre hingga 8 sampai 10 jam di SPBU pada Maret dan April. Krisis pasokan tersebut mendorong masyarakat mulai melirik kendaraan listrik sebagai kebutuhan harian, dengan produk asal China menjadi pilihan utama yang paling mudah diakses.
Presiden Asosiasi Energi Berkelanjutan dan Terbarukan Bangladesh, Mostafa Al Mahmud, menjelaskan bahwa penghematan penggunaan motor listrik sangat signifikan. Biaya operasional sepeda motor listrik diperkirakan hanya sepersepuluh dari motor berbahan bakar bensin. Selain itu, harga beli awal skuter listrik sangat bersaing, bahkan lebih terjangkau ketimbang beberapa jenis sepeda motor konvensional.
Tren Kebebasan Mobilitas Pengendara Perempuan
Selain faktor penghematan BBM, keberadaan motor listrik terjangkau juga mendorong tren sosial baru. Mahmud mencatat terjadi kenaikan pesat penjualan skuter listrik di kalangan perempuan karena memberikan kemudahan akses pada transportasi pribadi dan kemandirian mobilitas.
Di Pakistan, seorang desainer muda bernama Faiza Ashraf mengaku membeli motor listrik sejak berstatus mahasiswa untuk menghindari pelecehan di transportasi umum serta rasa tidak nyaman akibat cuaca panas. Pengalaman yang dibagikan Ashraf di media sosial kemudian menginspirasi banyak perempuan lain hingga terbentuk komunitas berkendara bersama di berbagai kota.
Peneliti dari Sustainable Development Policy Institute di Islamabad, Sarim Zia, menyebut kepopuleran motor listrik di kalangan perempuan terjadi karena desain skuter listrik memungkinkan posisi duduk tegak. Desain ini lebih dapat diterima secara norma sosial budaya setempat dibandingkan motor bensin konvensional yang mengharuskan posisi duduk mengangkang. Zia juga menambahkan bahwa motor listrik mudah diterima masyarakat luas karena pengisian dayanya dapat dilakukan di rumah menggunakan soket 12 volt biasa tanpa perlu infrastruktur khusus.
Ketergantungan Komponen dan Persaingan Geopolitik
Meski kegiatan perakitan motor listrik sudah mulai dilakukan di Bangladesh dan Pakistan, industri lokal masih sangat bergantung pada pasokan komponen bernilai tinggi asal China, seperti baterai dan pengontrol elektronik. Pakistan berupaya mengembangkan rantai pasokan domestik, namun ketergantungan impor dari China sulit dipangkas dalam waktu singkat.
Berbeda dengan negara tetangganya, India berusaha membatasi dominasi China dengan mendorong produksi kendaraan listrik dan komponen utama di dalam negeri. Produsen lokal seperti Ola Electric dan Ather Energy telah mendaftarkan ratusan paten teknologi guna menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar domestik.
Dominasi China diperkirakan masih bertahan lama setelah Negeri Tirai Bambu tersebut menerapkan kebijakan kontrol ketat atas ekspor teknologi baterai mutakhir, bahan kimia, serta mesin pendukungnya pada Oktober 2025. Rekan peneliti dari Observer Research Foundation di New Delhi, Aditya Shivamurthy, menilai faktor ekonomi dan harga terjangkau membuat konsumen biasa tetap memilih skuter listrik buatan China di tengah persaingan geopolitik kawasan.
Sumber: BBC News Indonesia








