Hukum & Kriminal

Pasangan Kaya AS Didakwa Siksa Puluhan Anak Surrogacy

Pasangan Kaya AS Didakwa Siksa Puluhan Anak Surrogacy
Daftar Isi
  1. Penemuan Kasus Kekerasan Anak
  2. Modus Agen Ibu Pengganti dan Celah Hukum
  3. Profil Pelaku dan Nasib Anak-Anak

Sepasang suami istri kaya di Arcadia, California, Amerika Serikat, didakwa atas dugaan kekerasan terhadap puluhan anak balita yang dilahirkan melalui praktik ibu pengganti (surrogacy). Kasus ini terungkap setelah pihak berwenang menggeledah rumah mewah mereka dan menemukan 14 anak yang hidup dalam kondisi mengenaskan di bawah pengawasan puluhan kamera pengintai.

Penemuan Kasus Kekerasan Anak

Penyelidikan bermula pada Mei 2025 saat seorang bayi berusia dua bulan bernama Walter dilarikan ke rumah sakit di Arcadia akibat cedera kepala parah. Wanita yang mengaku sebagai ibunya menceritakan bahwa bayi tersebut terjatuh secara tidak sengaja dari tempat tidur. Namun, dokter yang memeriksa menduga luka tersebut berasal dari guncangan keras atau dampak kecelakaan kendaraan yang hebat.

Atas kecurigaan penganiayaan anak, polisi menggeledah rumah tinggal Guojun Xuan (66) dan Silvia Zhang (39). Rumah mewah seluas 929 meter persegi seharga US$3,3 juta (sekitar Rp54 miliar) tersebut dilengkapi 9 kamar tidur, 11 kamar mandi, serta 32 kamera pengawas. Di dalamnya, petugas menemukan 14 anak berusia enam bulan hingga tiga tahun yang diduga mengalami penganiayaan fisik hampir setiap hari.

“Rumah ini hanya bisa digambarkan sebagai ‘rumah horor’ bagi anak-anak yang masih sangat kecil dan dibawa ke rumah tersebut melalui proses ibu pengganti,” kata Jaksa Wilayah Los Angeles County, Nathan Hochman, dalam konferensi pers usai pembacaan dakwaan pada Oktober.

Dokumen dakwaan menyebutkan rekaman kamera memperlihatkan anak-anak balita diminta duduk di depan meja selama berjam-jam. Terdapat satu ruangan tanpa kamera tempat para pengasuh membawa anak-anak masuk, yang kemudian disusul oleh suara teriakan anak. Salah satu pengasuh, Chunmei Li, turut didakwa atas kekerasan yang berpotensi menyebabkan cedera serius atau kematian, tetapi keberadaannya saat ini masih buron.

Pengacara pasangan tersebut, Mitchell Krems, membantah seluruh tuduhan dan menyatakan kliennya tidak bersalah. Seperti dilaporkan CBS News, Krems menilai tuduhan tersebut sebagai kekeliruan dalam menafsirkan bukti. “Ia menjadi sasaran hanya karena menjalankan hak konstitusionalnya untuk memiliki keluarga besar,” kata Krems.

Modus Agen Ibu Pengganti dan Celah Hukum

Pihak berwenang menemukan bahwa alamat kediaman pasangan tersebut terdaftar sebagai kantor agen ibu pengganti bernama Mark Surrogacy. Agen yang dikelola oleh Zhang dan Xuan ini dimanfaatkan untuk merekrut para perempuan sebagai ibu pengganti tanpa menginformasikan bahwa pasangan itu adalah pemilik sekaligus satu-satunya klien.

Wakil Jaksa Wilayah MacKenzie Cameron Teymouri menyampaikan dalam persidangan bahwa tidak ada calon orang tua lain yang pernah dipasangkan melalui agen tersebut. Sejumlah ibu pengganti, termasuk Tronderrica James beserta lima perempuan lainnya, telah mengajukan gugatan perdata terhadap pasangan itu atas dugaan penipuan dan penyampaian informasi yang menyesatkan.

Selain mengoperasikan agensi sendiri, Xuan juga menggunakan jasa agen lain seperti Babytree Surrogacy. Pendiri Babytree, Patrick Yu, mengonfirmasi kepada BBC bahwa pihaknya sempat membantu memfasilitasi kehamilan bagi Xuan sebelum kasus ini terungkap. “Ketika kami melihat pemberitaan bahwa ia sedang diselidiki, saat itulah saya baru menyadari bahwa dia memiliki begitu banyak anak. Kami langsung menghentikan kerja sama dengannya,” kata Yu.

Amerika Serikat merupakan salah satu tujuan utama praktik ibu pengganti internasional, di mana warga negara China menjadi kelompok klien asing terbesar. Menurut Dr Liang Yu, pakar reproduksi dari Old Dominion University, hukum di AS tidak membatasi jumlah anak yang dapat dimohonkan oleh orang tua melalui prosedur ibu pengganti. “Hal ini menciptakan wilayah abu-abu dalam hukum dan regulasi industri,” ujar Liang kepada BBC, sembari menambahkan bahwa kerahasiaan medis membuat tindakan seperti ini sulit terdeteksi.

Profil Pelaku dan Nasib Anak-Anak

Dalam persidangan, jaksa mengungkapkan bahwa kekayaan bersih Xuan dan Zhang pada 2025 melampaui US$100 juta (sekitar Rp1,6 triliun). Xuan, yang memegang paspor China, Meksiko, dan Amerika Serikat, merupakan mantan anggota legislatif di Daerah Otonom Xinjiang, China, yang kemudian aktif dalam berbagai organisasi bisnis di California. Sementara Zhang diketahui bekerja sebagai agen properti.

Saat ini Xuan dan Zhang ditahan dengan nilai jaminan masing-masing sebesar US$20 juta (sekitar Rp330 miliar). Xuan terancam hukuman penjara hingga 17 tahun empat bulan, sedangkan Zhang menghadapi ancaman hukuman hingga 11 tahun delapan bulan penjara jika terbukti bersalah.

Secara keseluruhan, terdapat 26 anak yang teridentifikasi berhubungan dengan pasangan ini, dengan 21 anak di antaranya telah ditempatkan di bawah perlindungan negara sejak Mei 2025. Salah satu ibu pengganti, Melissa Epps, memilih mempertahankan bayi perempuan yang dikandungnya setelah mengetahui kasus pidana yang melibat pasangan tersebut. Meski Xuan dan Zhang menuntutnya sebesar US$1 juta (Rp18 miliar) atas pelanggaran kontrak, pengacara Epps, Pamela DeCamp, mengonfirmasi kepada BBC bahwa bayi tersebut kini berada dalam kondisi aman dan tinggal bersama Epps di bawah pengawasan layanan sosial Virginia, sementara persidangan gugatan dijadwalkan berlanjut hingga Maret mendatang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *