Teknologi

Pekerja di India Rekam Pekerjaan Demi Latih AI Robotik

Pekerja di India Rekam Pekerjaan Demi Latih AI Robotik

Mohammed Ashim, seorang tukang pangkas rambut di Bengaluru, India, merekam seluruh aktivitas pekerjaannya menggunakan kamera yang terpasang di kepalanya selama lima hingga enam jam sehari. Seperti ratusan ribu pekerja lainnya di seluruh dunia, ia dibayar untuk merekam aktivitas tersebut guna melatih kecerdasan buatan atau *Artificial Intelligence* (AI) fisik, jenis kecerdasan yang dapat mengendalikan robot di dunia nyata.

Pengumpulan Data untuk Robotika

Rekaman dari para pekerja dikumpulkan oleh perusahaan lokal dan dijual kepada perusahaan teknologi serta organisasi penelitian. Shahil Baig, salah satu pendiri dan CEO Rashdan Technologies yang mengumpulkan data tersebut, mengatakan bahwa laboratorium AI membutuhkan data spesifik seperti pekerjaan industri, pertanian, pekerjaan rumah tangga, dan usaha kecil. Perusahaannya membayar US$5 hingga US$10 atau sekitar Rp90.000 sampai Rp180.000 untuk delapan hingga 10 jam kerja yang direkam, seperti dilaporkan BBC News Indonesia.

Baig menuturkan bahwa privasi para pekerja dijaga dengan memastikan persetujuan mereka, sementara kamera hanya merekam bagian tangan dan wajah disembunyikan. Namun, permintaan klien kini semakin meningkat dengan penggunaan empat hingga enam kamera di sekitar kepala untuk meliput seluruh adegan, yang dibayar dengan harga lebih tinggi. Manish Agarwal, pendiri Humyn Labs yang turut mengumpulkan data, menjelaskan bahwa robot tidak bisa hanya dilatih melalui simulasi komputer karena tugas fisik memerlukan sinyal berkualitas tinggi terkait gerakan anggota tubuh dan penerapan gaya dinamis.

Agarwal menyebutkan bahwa internet belum menyediakan data aktivitas manusia yang berhubungan langsung dengan kontak fisik seperti membersihkan dapur atau perakitan mobil, sehingga data tersebut harus dikumpulkan dari dunia nyata. Perusahaannya kini memiliki 96.000 pengumpul data di berbagai negara di Amerika Latin dan Asia Tenggara. Humyn Labs menyaring ribuan jam video tersebut, memilih konten terbaik, memberi label agar AI mengenali isinya, dan mengemasnya agar sesuai dengan wilayah geografis klien.

Dilema Pekerja dan Masa Depan AI

Di tengah maraknya pengumpulan data ini, timbul pertanyaan mengenai apakah para pekerja sedang menyiapkan mesin yang kelak akan menggantikan pekerjaan mereka. Profesor senior Bino Paul dari Tata Institute of Social Sciences (TISS) di Mumbai menilai masih terlalu dini untuk menilai dampaknya, meski robot berpotensi mengotomatiskan pekerjaan lain. Menurutnya, jika mesin mulai mengambil alih, hanya sedikit yang bisa dilakukan para pekerja ketika semuanya sudah terlanjur, sehingga ia menekankan perlunya pemerintah mengatur tata kelola AI agar tetap menjunjung tinggi etika.

Bagi para pekerja di lapangan, alasan utama mereka terlibat adalah demi kelangsungan hidup. Mohammed Arman, seorang pekerja industri tekstil di Bengaluru selama 10 tahun, mengaku mengenakan kamera kepala saat bekerja semata-mata karena ingin mendapatkan uang tambahan untuk keluarganya di kampung halaman tanpa harus mengubah rutinitasnya. Senada dengan itu, Jolly Arifur, seorang guru sains di Guntakal, memanfaatkan perekaman tugas rumah tangga seperti membersihkan dan memasak sebagai sumber pendapatan tambahan yang fleksibel di sela-sela jadwal mengajarnya dengan bayaran dua hingga tiga dolar per jam.

Agarwal berpendapat bahwa peran India saat ini sebagian besar masih sebagai pemasok bahan baku berupa rekaman video mentah untuk laboratorium di luar negeri. Menurutnya, nilai bisnis tersebut akan cepat terkikis seiring persaingan yang meningkat, sehingga India perlu meningkatkan posisinya dalam rantai nilai dengan memiliki alur kerja yang membersihkan, menyusun, dan memvalidasi data pelatihan berkualitas tinggi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *