Jakarta International Literary Festival (JILF) 2026 resmi dibuka di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada Kamis (22/10/2026). Festival sastra ini mengusung tema Living Space dengan harapan dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menghargai keberagaman, serta berani menciptakan karya.
Peran Penting Generasi Muda dan Sastra
Sekretaris Dinas Kebudayaan DKI Jakarta Retno Setiowati menyatakan bahwa keterlibatan generasi muda merupakan aspek krusial dalam pengembangan ekosistem sastra di ibu kota. Menurut dia, sastra tidak sekadar mendorong kegemaran membaca, tetapi juga membantu masyarakat memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.
Secara khusus keterlibatan generasi muda menjadi hal yang sangat penting, kata Retno, karena pihak penyelenggara ingin melahirkan generasi muda yang tidak hanya gemar membaca, tetapi juga mampu berpikir kritis, menghargai keberagaman, serta memiliki keberanian untuk menyampaikan gagasan dan menciptakan karya.
Ia menjelaskan bahwa sastra memiliki peran vital dalam membangun empati, merawat ingatan kolektif, dan menghadirkan perspektif baru untuk memahami persoalan sosial. Melalui karya sastra, masyarakat diharapkan mampu mengenali pengalaman kelompok lain, termasuk suara-suara yang selama ini kurang mendapatkan ruang.
Retno menyebutkan, penyelenggaraan JILF menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Jakarta sebagai kota yang terbuka terhadap pertukaran gagasan dunia tanpa harus kehilangan akar dan identitas budayanya. Langkah ini juga dinilai relevan dengan status Jakarta sebagai UNESCO City of Literature, yang perlu diiringi dengan pengembangan ekosistem literasi yang inklusif serta berkelanjutan.
Jakarta tidak cukup menjadi kota yang maju dan kompetitif secara global, tapi Jakarta juga harus menjadi kota yang memiliki jiwa, karakter, dan identitas budaya yang kuat, tutur Retno.
Tema Living Space dan Rangkaian Kegiatan Festival
Sementara itu, Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta Dewi Umaya Rachman menjelaskan bahwa tema Living Space mengajak masyarakat untuk memahami ruang hidup bukan sekadar tempat dengan batasan geografis, dinding, atau alamat.
Ruang hidup yang baik bukanlah ruang yang hanya ditempati, melainkan ruang yang memungkinkan setiap orang merasa hadir, diakui, dan memiliki kesempatan untuk bertumbuh, ujar Dewi.
Dewi mengharapkan JILF tidak berhenti sebagai perayaan sastra sesaat, melainkan mampu membuka hubungan baru serta mendorong minat masyarakat yang lebih luas terhadap sastra. Pihaknya berharap festival ini dapat meninggalkan hubungan baru, membuka jalan bagi kerja sama berikutnya, memperluas peredaran karya, dan mendorong lebih banyak orang untuk terlibat dalam kehidupan sastra.
Pelaksanaan JILF 2026 dijadwalkan berlangsung dari tanggal 22 hingga 25 Oktober 2026 dengan menghadirkan beragam kegiatan. Rangkaian acara tersebut mencakup forum penulis nasional dan internasional, diskusi buku, pembacaan karya, pertunjukan seni, pasar buku, hingga berbagai kegiatan komunitas yang mempertemukan penulis, penerjemah, penerbit, pembaca, serta komunitas sastra dari dalam maupun luar negeri.
Sumber: Liputan6.com Peristiwa








