Metropolitan

Penjelasan BMKG Terkait Penggunaan Dry Ice untuk Asap Karhutla

Penjelasan BMKG Terkait Penggunaan Dry Ice untuk Asap Karhutla

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memanfaatkan dry ice melalui operasi modifikasi cuaca guna mengurangi dampak asap dari kebakaran hutan dan lahan. Fokus penerapan metode tersebut berada di wilayah Sumatra Selatan serta Kalimantan Tengah dengan sasaran utama mengganggu lapisan inversi atmosfer.

Fungsi Dry Ice dan Lapisan Inversi Atmosfer

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menerangkan bahwa penerbangan pengangkut dry ice dilaksanakan pada pagi hari. Langkah ini bertujuan mengganggu lapisan inversi agar tidak terus memerangkap asap di dekat permukaan tanah.

Budi menyatakan bahwa kondisi inversi terjadi saat suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu, sehingga pergerakan udara ke atas terhambat. Melalui pembukaan lapisan inversi tersebut, asap kebakaran berpotensi bergerak ke atas dan mengurangi kepekatan di lapisan bawah.

“Tujuannya tadi, gerobek layar inversi, mengganggu layar inversi,” kata Budi dalam pemaparan pembaruan penanganan karhutla.

Ia menambahkan, normalnya suhu udara juga membuka peluang bagi radiasi matahari untuk mencapai permukaan guna mendukung proses penguapan dan pertumbuhan awan hujan.

“Harapannya dengan suhunya normal kembali tersebut, lapisan inversi itu menjadi terbuka, sehingga kalaupun tidak turun hujan, asap yang terbakar dari bawah itu tidak tertahan oleh si lapisan inversi tersebut. Sehingga bisa terus naik ke atas, kepekatan di bawah berkurang,” ujarnya.

Lebih lanjut, Budi membedakan penerapan dry ice dengan penyemaian awan memakai natrium klorida (NaCl). Dry ice dipakai pada pagi hari untuk merusak lapisan inversi, sementara penyemaian NaCl dilakukan ketika awan konvektif seperti kumulus mulai tumbuh demi mempercepat terjadinya hujan.

“Kalau kemudian sudah terbentuk profil awan konvektif ya, sudah mulai tumbuh awan-awan kumulus, baru kemudian penyemaian awannya dilakukan dengan menggunakan bahan semai NaCl seperti biasanya, yang tujuannya adalah untuk menambah inti kondensasi sehingga mempercepat terjadinya hujan,” jelas Budi.

Hasil Pemantauan di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah

Berdasarkan pemantauan di Palembang, Sumatra Selatan, pada tanggal 19 Oktober 2026, jarak pandang pada pagi hari tercatat berada di bawah 1.000 meter. Setelah penerbangan pembawa dry ice berlangsung antara pukul 09.00 hingga 15.00 waktu setempat, jarak pandang dilaporkan mengalami kenaikan.

“Dari grafik visibility, pagi hari ini umumnya di bawah 1.000. Kemudian pada saat sudah melakukan penerbangan dengan membawa dry ice, kurang lebih dari jam 9 pagi sampai jam 3 sore begitu, visibility-nya kemudian naik,” kata Budi.

Selain itu, BMKG mencatat penurunan indeks PM2.5 karena pergerakan partikulat secara vertikal. Kendati demikian, Budi menegaskan bahwa operasi tersebut tidak serta-merta melenyapkan seluruh asap tanpa adanya hujan maupun pemadaman langsung.

“Meskipun tidak hilang asapnya, karena asap hilang ini salah satu cara yang paling efektif adalah dengan siraman hujan, di samping juga upaya kawan-kawan yang melakukan pemadaman dari darat, juga helikopter water bombing,” ujarnya.

Sementara itu, pemantauan di Kalimantan Tengah menunjukkan penurunan indeks PM2.5 dari pagi hingga sore hari, tetapi perbaikan jarak pandang di wilayah tersebut belum tampak signifikan. Perbedaan hasil antarwilayah memperlihatkan bahwa operasi modifikasi cuaca memerlukan langkah terpadu yang disesuaikan dengan kondisi lokal dan pengamatan periode tertentu.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *