Dunia

Mengapa Sebagian Orang Mengalami Kejadian Paranormal?

Mengapa Sebagian Orang Mengalami Kejadian Paranormal?
Daftar Isi
  1. Kondisi Kesadaran yang Berubah dan Kelumpuhan Tidur
  2. Pareidolia, Disosiasi, dan Faktor Lingkungan
  3. Faktor Evolusi dan Bias Kognitif

Manusia memiliki sejarah panjang dalam menuturkan cerita hantu sejak zaman kuno hingga era modern. Namun, sejumlah ahli menjelaskan bahwa pengalaman paranormal yang diyakini sebagian orang sebenarnya memiliki penjelasan psikologis dan lingkungan tertentu.

Kondisi Kesadaran yang Berubah dan Kelumpuhan Tidur

Profesor Christine Simmonds-Moore, psikolog di University of West Georgia, Amerika Serikat, mengatakan bahwa pengalaman paranormal nyata secara subjektif dan berdampak besar pada kehidupan seseorang, meski bukan berarti disebabkan oleh hal supranatural. Menurutnya, fenomena tersebut dapat terjadi akibat kondisi kesadaran yang sedikit berubah, seperti kondisi hipnagogik pada masa peralihan antara tidur dan terjaga.

Pada fase tersebut, imajinasi internal bercampur dengan persepsi dunia luar sehingga sulit dibedakan. Kondisi ini juga memicu kelumpuhan tidur atau sleep paralysis yang diperkirakan pernah dialami oleh 7,6 persen populasi umum berdasarkan tinjauan penelitian tahun 2011.

Profesor Chris French dari Goldsmiths, University of London, menjelaskan bahwa kelumpuhan tidur terjadi ketika tubuh sudah terbangun tetapi otak belum sepenuhnya sadar. Kondisi ini sering kali memunculkan perasaan kuat bahwa ada sosok lain di dalam ruangan atau halusinasi yang sangat nyata dan menakutkan.

Pareidolia, Disosiasi, dan Faktor Lingkungan

Para ahli juga mengaitkan pengalaman paranormal dengan pareidolia, yaitu kecenderungan melihat pola dalam hal-hal yang acak akibat cara kerja sistem penglihatan manusia. Profesor Rodney Schmaltz dari MacEwan University di Kanada menyatakan bahwa seseorang lebih mudah keliru mengira sesuatu di sudut mata menyerupai wajah, terutama saat sedang mengalami stres.

Selain itu, psikolog menyebut fenomena disosiasi—yakni ketika aspek diri dialami secara terpisah seperti saat berada dalam mode autopilot—dapat membuat seseorang mempersepsikan bagian dari dirinya sendiri sebagai makhluk lain. Penelitian juga menunjukkan hubungan antara pengalaman paranormal dengan sifat psikologis transliminality, di mana orang yang kreatif dan memiliki imajinasi kuat lebih mudah mengingat mimpi atau merasa ada sosok tak terlihat.

Faktor lingkungan turut memengaruhi suasana tempat tertentu, seperti area redup dengan langit-langit tinggi yang membuat orang merasa lebih cemas. Keberadaan suara infrasonik atau infrasound berfrekuensi di bawah 20 hertz yang dihasilkan mesin atau bangunan tua juga dapat meningkatkan kadar hormon stres kortisol, meski hubungannya dengan pengalaman paranormal masih menjadi perdebatan di kalangan periset.

Faktor Evolusi dan Bias Kognitif

Daya tarik terhadap hal supranatural juga berkaitan dengan evolusi manusia yang dibentuk untuk bertahan hidup alih-alih mencari kebenaran mutlak. Folkloris Deborah Hyde menjelaskan bahwa manusia memiliki bias kognitif yang disebut agency detection, di mana respons bawaan saat menghadapi situasi aneh adalah menganggap ada kesadaran atau maksud tertentu dari suatu kejadian.

Keberadaan confirmation bias atau bias konfirmasi turut menjelaskan alasan orang mengaitkan pengalaman tidak biasa dengan penyebab supranatural. Ketika seseorang sudah memiliki keyakinan atau keinginan agar hantu dan kehidupan setelah kematian itu benar-benar ada, mereka akan lebih memperhatikan bukti-bukti yang mendukung keyakinan tersebut.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *