Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman memberikan apresiasi kepada Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto yang memimpin langsung operasi pemberantasan jaringan narkoba di Indonesia. Dia meminta pihak kepolisian untuk konsisten menjalankan langkah agresif dalam memberantas peredaran gelap narkotika hingga tuntas.
Apresiasi Komisi III DPR RI
Menurut Habiburokhman kepada wartawan pada Minggu (25/10/2026), tindakan kepolisian yang turun langsung ke lapangan merupakan sebuah prestasi yang luar biasa. Dia menilai aksi tersebut bukan sekadar penegakan hukum semata, melainkan misi kemanusiaan untuk menyelamatkan jutaan warga negara dan generasi muda.
Habiburokhman menyoroti sejumlah pengungkapan yang dilakukan kepolisian, mulai dari pembongkaran pabrik narkoba di Pidie, Aceh, hingga penindakan pabrik tramadol ilegal lintas provinsi. Dia menyebut tindakan tegas tersebut menyasar peredaran gelap dari hulu hingga ke hilir tanpa pandang bulu.
Operasi yang dipimpin langsung oleh Jenderal Suyudi tersebut, lanjutnya, mengirimkan pesan kuat bahwa negara hadir dan tidak boleh kalah dari sindikat narkoba. Komisi III DPR RI menyatakan dukungan penuh terhadap komitmen tanpa kompromi tersebut dan meminta kepolisian terus memburu para bandar besar.
Penggagalan Penyelundupan dan Pengungkapan Laboratorium
Sebelumnya, tim gabungan yang terdiri dari Bareskrim Polri, BNN, Ditjen Bea dan Cukai, Ditpolair Baharkam Polri, serta Polda Sumatera Utara menggagalkan penyelundupan 1,16 ton ketamin HCL. Barang haram tersebut diangkut menggunakan kapal MT Global 168 di perairan Tanjung Balai Asahan, Sumatera Utara, seperti dilaporkan detikcom.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyatakan bahwa petugas mengamankan delapan orang awak kapal dalam penindakan tersebut. Para pelaku terdiri atas tujuh warga negara Indonesia dan satu orang warga negara Taiwan.
Petugas menyita 58 karung berisi ketamin dengan berat bruto total 1,16 ton, alat komunikasi, serta kapal MT Global 168 dari hasil penggeledahan. Pengungkapan barang bukti tersebut diperkirakan mampu menyelamatkan sekitar 5,8 juta jiwa dari ancaman penyalahgunaan narkotika.
Di samping itu, tim gabungan juga membongkar laboratorium narkoba terbesar di Indonesia atau clandestine lab di Pidie, Aceh. Fasilitas yang memanfaatkan dua ruko tersebut mampu memproduksi narkotika hingga 1,2 ton.
Penyelidikan awal menunjukkan bahwa laboratorium gelap di Pidie tersebut diduga kuat terhubung dengan jaringan narkoba internasional lintas negara yang melibatkan sindikat asal China, Malaysia, dan Indonesia.
Sumber: Berita - Detikcom








