Daftar Isi
Kasus pembunuhan ibu dan anak di Madiun, Jawa Timur, mengandalkan ilmu forensik setelah tersangka Dwi Bagus Martono diduga membakar, menghancurkan, dan membuang sisa jasad istri siri serta anak tirinya. Polisi telah mengamankan sejumlah barang bukti seperti mesin pencacah, abu, serta fragmen tulang untuk menjalani serangkaian pemeriksaan ilmiah.
Verifikasi Awal Material
Ahli forensik Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU), Asan Petrus, menjelaskan bahwa proses identifikasi tidak menuntut jasad dalam keadaan utuh, melainkan bergantung pada kualitas sampel biologis yang tersisa. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah memastikan asal material yang ditemukan melalui serangkaian pemeriksaan.
Asan menuturkan, apabila ditemukan benda yang diduga berasal dari tubuh manusia, ahli akan melakukan verifikasi spesies menggunakan precipitin test. Pengujian serologis ini bertujuan untuk menentukan secara pasti apakah material biologis tersebut benar-benar berasal dari manusia.
Identifikasi Melalui DNA
Setelah memastikan asal material, tahapan berikutnya adalah mencari identitas sumber melalui pemeriksaan DNA guna menautkan temuan dengan individu tertentu. Bahan untuk uji DNA tidak harus berupa bagian tubuh yang besar, melainkan bisa memanfaatkan darah, rambut, kuku, air liur, urine, hingga potongan kecil jaringan.
Sampel berukuran kecil tetap memiliki peluang untuk diperiksa selama masih menyimpan materi genetik yang memadai, meskipun kondisi dan kualitas sampel sangat menentukan keberhasilannya. Asan mengingatkan bahwa ditemukannya profil DNA belum otomatis mengungkap nama pemiliknya, sehingga hasil uji tersebut harus dicocokkan dengan DNA pembanding dari keluarga kandung yang melaporkan kehilangan.
Antropologi Forensik dan Batasan Identifikasi
Selain DNA, antropologi forensik juga dapat dipakai untuk mengenali korban dengan mempelajari karakter biologis dari bagian tubuh atau tulang yang tersisa guna memperkirakan jenis kelamin, tinggi badan, serta ciri fisik lainnya. Pendekatan ini sangat bermanfaat ketika wajah atau bentuk tubuh korban sudah tidak dapat dikenali lagi.
Kendati demikian, Asan menegaskan bahwa beragam metode forensik tidak memberikan jaminan semua jasad dengan kerusakan ekstrem bisa teridentifikasi karena keberhasilannya sangat bergantung pada ketersediaan material layak uji dan data pembanding. Jika yang tersisa hanya bagian tubuh rusak berat tanpa adanya DNA pembanding, ahli masih dapat memperkirakan karakter biologisnya, namun memastikan nama korban akan menjadi jauh lebih menantang.
Sumber: Liputan6.com Peristiwa








