Sejumlah pencari properti di Jepang memanfaatkan kepercayaan terhadap takhayul untuk mendapatkan hunian dengan harga miring. Properti berstigma yang dikenal sebagai jiko bukken kini diminati karena menawarkan potongan harga besar akibat riwayat insiden di dalamnya.
Properti Berstigma dan Aturan Pemerintah Jepang
Di Jepang, terdapat kategori hunian bernama jiko bukken yang merujuk pada properti berstigma atau pernah menjadi lokasi insiden. Berdasarkan pedoman pemerintah tahun 2021, agen properti wajib mengungkapkan apabila sebuah rumah pernah menjadi lokasi bunuh diri, pembunuhan, kematian akibat kebakaran, atau kematian yang jasadnya baru ditemukan setelah waktu yang lama.
Bagi properti sewaan, informasi tersebut wajib disampaikan selama tiga tahun. Sementara untuk properti yang dijual, riwayat itu harus diberitahukan tanpa batas waktu. Sebagai perbandingan, di Inggris tidak ada kewajiban hukum untuk mengungkapkan kematian di suatu properti, sedangkan di Amerika Serikat aturannya berbeda di setiap negara bagian.
Ryua, seorang penghibur muda yang tinggal di Tokyo, mengaku mengalami aktivitas paranormal hampir setiap hari di apartemennya. Ia kerap mendengar suara langkah kaki dan suara hantu yang berbicara. Ryua diberi tahu bahwa seorang pria pernah mengakhiri hidupnya di apartemen tersebut, yang memberikannya potongan harga sewa hampir 30 persen untuk kamar studio seluas 25 meter persegi di Setagaya.
Ia membayar sewa sebesar 45.000 yen atau sekitar US$285 per bulan, dari tarif normal 62.000 yen. Menurut agen properti Erik Oskamp, masyarakat Jepang cenderung lebih percaya takhayul dan enggan menempati properti semacam itu, bahkan apartemen di sebelah pemakaman pun sulit disewakan.
Peluang Harga Murah di Berbagai Wilayah
Di Kagoshima, wilayah pedesaan di barat daya Jepang, kondisi serupa dimanfaatkan oleh Diane Tincher, seorang warga Amerika berusia 79 tahun yang telah tinggal di Jepang selama hampir 40 tahun. Ia membeli rumah besar berlantai tiga dengan harga sekitar setengah dari nilai seharusnya karena seorang perempuan lanjut usia meninggal seorang diri di sana.
Tincher membeli rumah itu seharga 20 juta yen di kawasan yang properti serupanya biasa dijual hingga 45 juta yen. Ia mengetahui informasi tersebut melalui situs Oshimaland yang mencantumkan properti jiko bukken beserta rincian kejadiannya.
Situs Oshimaland diluncurkan pada tahun 2005 dan kini mengandalkan kontribusi pengguna untuk memperbarui data properti beserta riwayat kejadian di lokasi tersebut. Teru Oshima, pendiri situs itu, menyatakan bahwa seiring melonjaknya harga rumah dan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir, sikap masyarakat mulai bergeser.
Sebuah survei pada tahun 2025 menunjukkan bahwa lebih dari separuh warga Jepang kini bersedia menyewa jiko bukken apabila ditawarkan dengan harga lebih murah.
Kembali di Setagaya, Ryua tetap merasa bahagia tinggal bersama hantu yang ia anggap sebagai teman serumahnya karena meyakini arwah tersebut layak mendapatkan rasa hormat.
Sumber: BBC News Indonesia








