Ekonomi

Sisi Lain Job Fair: Antara Harapan dan Realitas Pencari Kerja

Sisi Lain Job Fair: Antara Harapan dan Realitas Pencari Kerja
Daftar Isi
  1. Profil Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran
  2. Pandangan Pengamat dan Kebijakan Pemerintah
  3. Tips Menghadapi Bursa Kerja

Penyelenggaraan bursa kerja atau job fair di Jakarta kerap dibanjiri ribuan pencari kerja yang memperebutkan posisi terbatas, sehingga sering kali membuat mereka pulang dengan tangan hampa. Kondisi ini mencerminkan ketimpangan ekstrem di pasar tenaga kerja yang memperpanjang rantai penantian para pencari kerja.

Profil Ketenagakerjaan dan Tingkat Pengangguran

Berdasarkan data Profil Ketenagakerjaan Umum Indonesia per Februari 2026 yang dirilis Kementerian Tenaga Kerja (Kemnaker) dari data Badan Pusat Statistik (BPS), Penduduk Usia Kerja tercatat mencapai 219,54 juta orang. Dari jumlah tersebut, Angkatan Kerja sebanyak 154,91 juta orang atau 70,56 persen, dengan rincian penduduk yang bekerja sebanyak 147,67 juta orang dan Pengangguran Terbuka (TPT) sebanyak 7,24 juta orang atau 4,68 persen. Sementara itu, Bukan Angkatan Kerja tercatat sebanyak 64,63 juta orang atau 29,44 persen.

Dari total penduduk yang bekerja sebanyak 147,67 juta orang, sebanyak 98,59 juta orang bekerja penuh atau sementara tidak bekerja, dan 49,08 juta orang bekerja tidak penuh. Berdasarkan tingkat pendidikan, Tingkat Pengangguran Terbuka tertinggi didominasi oleh lulusan SMK sebesar 7,74 persen, diikuti lulusan SMA sebesar 6,23 persen, dan Sarjana sebesar 6,13 persen. Di sisi lain, tiga sektor lapangan usaha terbesar yang menyerap tenaga kerja adalah sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan sebanyak 42,49 juta orang, sektor perdagangan besar dan eceran sebanyak 26,51 juta orang, serta sektor industri pengolahan sebanyak 20,03 juta orang.

Pandangan Pengamat dan Kebijakan Pemerintah

Pengamat Ketenagakerjaan dari Policy Research Center, Arif Novianto, menyatakan kepada Liputan6.com bahwa *skills mismatch* memang ada, namun tidak adil jika tingginya angka pengangguran terus-menerus dibebankan kepada kurikulum atau anak muda. Menurut Arif, job fair dapat membantu proses rekrutmen tetapi tidak otomatis menambah jumlah pekerjaan, sehingga masalah utamanya terletak pada kemampuan pemerintah dan kondisi ekonomi dalam menciptakan lapangan kerja layak.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Energi (Disnakertransgi) DKI Jakarta, Syaripudin, mengungkapkan dalam wawancara dengan Liputan6.com bahwa angka pengangguran yang tinggi turut dipengaruhi oleh kesenjangan keterampilan. Sebagai solusinya, penyelenggaraan job fair selalu dikolaborasikan dengan kegiatan pendukung seperti pameran pelatihan, kewirausahaan, *career talk*, hingga pelatihan praktis melalui Mobil Training Unit. Syaripudin menambahkan, dari rangkaian 11 job fair wilayah Kabupaten/Kota yang telah digelar hingga Oktober, tercatat partisipasi sebanyak 358 perusahaan dengan penempatan kerja sebanyak 750 orang serta ribuan lamaran yang masih dalam proses seleksi.

Tips Menghadapi Bursa Kerja

Agar tidak sia-sia mengikuti bursa kerja, para pencari kerja perlu melakukan sejumlah persiapan penting sebelum datang ke lokasi. Langkah awal yang perlu dilakukan meliputi riset perusahaan yang berpartisipasi, menyusun CV dan portofolio yang lengkap, berlatih wawancara, serta memerhatikan penampilan dan gestur tubuh.

Saat menghadiri acara, pencari kerja disarankan untuk datang lebih awal, membawa dokumen penting dalam bentuk cetak maupun salinan digital, serta mengikuti seminar atau pelatihan yang tersedia untuk membangun jaringan. Setelah acara selesai, pencari kerja diimbau untuk menindaklanjuti lamaran kepada perusahaan dan melakukan evaluasi diri secara berkala.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *