Daftar Isi
Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah, meminta pemerintah daerah memperkuat mitigasi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Jawa Timur. Persoalan tersebut terjadi selama musim kemarau dan dinilai tidak boleh terus diperlakukan sebagai kejadian musiman.
Penanganan Permanen dan Pemetaan Wilayah
Menurut Said seperti dilaporkan CNN Indonesia, penanganan kerap baru dilakukan setelah warga kesulitan air atau api telah membakar kawasan hutan. Ia menyebut kejadian serupa berulang hampir setiap musim kemarau sehingga mitigasi harus diperkuat tanpa harus menunggu sumur mengering atau hutan terbakar.
Said menjelaskan desa yang mengalami kekeringan setiap tahun relatif sama sehingga persoalannya dapat dipetakan. Bantuan tangki air tetap dibutuhkan dalam keadaan darurat, namun tugas ke depan adalah memastikan masyarakat di desa tersebut tidak terus menunggu tangki datang setiap tahun.
Ia juga menyoroti hubungan antara karhutla dan kekeringan karena hutan berfungsi sebagai penyangga kehidupan sekaligus daerah tangkapan air. Said menegaskan bahwa kerusakan di hulu akan berdampak langsung kepada masyarakat di hilir, sehingga menjaga lingkungan harus ditempatkan sebagai bagian dari perlindungan terhadap masyarakat.
Aksi Nyata Kader Partai di Daerah
Said turut mengingatkan pesan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri agar kader menjadi Pandu Ibu Pertiwi dan tidak hanya menjadi penonton ketika alam rusak. Ia mengatakan struktur dan kader partai dalam beberapa bulan terakhir telah bergerak di sejumlah wilayah Jawa Timur untuk membantu masyarakat.
Di Bojonegoro, anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Abidin Fikri, bersama jaringan partai menyalurkan sekitar 262 ribu liter air bersih ke 52 titik terdampak. Sementara di Gresik, DPC PDI Perjuangan menyalurkan sekitar 20 ribu liter air bersih kepada warga Randuboto, Sidayu.
Distribusi air juga dilakukan di Nganjuk, Tuban, Trenggalek, Tulungagung, Sampang, Banyuwangi, Bangkalan, Bondowoso, Lamongan, dan sejumlah daerah lain. Di Lamongan, unsur partai bersama kader di legislatif dan eksekutif menyalurkan air serentak ke enam desa di lima kecamatan.
Said meminta struktur ranting dan pimpinan anak cabang (PAC) berperan sebagai pemantau di lapangan agar informasi mengenai sumber air yang mengering atau kemunculan titik api dapat bergerak cepat. Gerakan serupa juga berlangsung dalam penanganan karhutla, seperti di Kota Batu, Magetan, dan Ngawi.
Terbaru, untuk menghadapi dampak kebakaran Arjuno, Ringgit, dan Welirang, PDI Perjuangan Jawa Timur menyiapkan 200 relawan dan 20 tangki air bagi masyarakat terdampak. Said menegaskan berbagai kegiatan tersebut tidak dimaksudkan mengambil alih tugas pemerintah, melainkan wujud gotong royong dan kesempatan mengetahui langsung persoalan masyarakat.
Evaluasi dan Rehabilitasi Kawasan Hutan
Ia menambahkan bantuan darurat harus tetap berjalan, namun solusi permanen juga perlu dikerjakan. Said juga meminta pemulihan kawasan hutan pascakebakaran menjadi bagian dari penanganan.
Setelah api padam dan kondisi dinyatakan aman, perlu evaluasi kerusakan vegetasi, habitat, sumber mata air, dan daerah tangkapan air yang dilanjutkan dengan rehabilitasi sesuai kebutuhan ekologis tiap kawasan. Said menyatakan bahwa api padam bukan berarti pekerjaan selesai karena hutan yang terluka harus dipulihkan dan sumber air harus dijaga.
Said menegaskan bahwa ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah semakin sedikit desa yang setiap tahun mengalami krisis air dan semakin kecil kawasan hutan yang terbakar.








