Pemerintah terus mengevaluasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan melakukan pembenahan penyimpanan bahan pangan, penguatan pengawasan, serta penyesuaian mekanisme operasional. Evaluasi ini dijalankan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan program sekaligus meminimalkan risiko keamanan pangan.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI), Syahganda Nainggolan, menyatakan pelaksanaan MBG terus mengalami penyesuaian. Ia menyoroti sejumlah aspek yang menjadi perhatian, mulai dari kebersihan dan penyimpanan bahan pangan hingga pengawasan melalui sistem kamera pengawas atau CCTV seperti dilaporkan Liputan6.com.
“Sebenarnya kan Presiden mendengar (masukan) kemudian meng-adjust (mengevaluasi). Satu soal kebersihan. Sekarang digunakan pendingin-pendingin untuk menyimpan barang-barang. Jangan sampai barang-barang ayam apa segala itu bisa basi ya sehingga didistribusikan udah basi. Yang kedua itu yang namanya sistem CCTV saya sebut tadi,” jelas Syahganda seperti dikutip Rabu (21/10).
Kepala Bakom juga menyoroti perubahan mekanisme kompensasi investasi bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Menurutnya, mekanisme yang sebelumnya menggunakan skema kompensasi tetap kini diarahkan menjadi berbasis porsi makanan yang disediakan sehingga alokasi untuk makanan dapat lebih proporsional.
“Sekarang per porsi makanan. Nah itu selisihnya yang dijadikan makanan makin besar sekarang,” ujarnya.
Menurut Syahganda, aspek kebersihan, penyimpanan bahan pangan, dan pengawasan melalui CCTV menjadi bagian penting untuk mendukung proses operasional di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Perbaikan Kualitas dan Keamanan Pangan
Penguatan kualitas pelaksanaan MBG juga dilakukan melalui penerapan standar operasional prosedur (SOP) dalam penanganan makanan. Badan Gizi Nasional (BGN) telah menerbitkan SOP pendinginan makanan yang berlaku sejak 4 September 2026 untuk mengatur pengendalian suhu, waktu, wadah, peralatan bersih, serta pencatatan proses pendinginan.
Penerapan SOP tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas dan keamanan pangan matang yang memerlukan pengendalian suhu dan waktu secara tepat. Setiap SPPG perlu menjalankan prosedur secara konsisten dari persiapan bahan, pengolahan, penyimpanan, hingga distribusi makanan, didukung kesiapan fasilitas penyimpanan dan kedisiplinan petugas.
Selain memperkuat standar operasional, BGN mengembangkan pengawasan berbasis teknologi. Pada Oktober 2026, BGN menguji coba integrasi CCTV dari sekitar 70 SPPG ke pusat pemantauan dengan dukungan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurut Kepala BGN Sudaryono, sistem tersebut ditujukan untuk membantu memantau kepatuhan terhadap SOP, mulai dari persiapan bahan makanan, proses pengolahan, pencucian wadah makan, hingga praktik kebersihan petugas.
BGN juga melakukan evaluasi terhadap operasional SPPG secara berkala. Berdasarkan hasil pengawasan, unit yang tidak memenuhi ketentuan dapat dikenai penghentian operasional sementara sebagai langkah korektif sesuai tingkat permasalahan dan hasil pemeriksaan di lapangan.
Sumber: Liputan6.com Peristiwa








