Nasional

Masyarakat Sipil Surabaya Demo Soroti Karhutla di Dua Tahun Pemerintahan

Masyarakat Sipil Surabaya Demo Soroti Karhutla di Dua Tahun Pemerintahan

Sejumlah kelompok masyarakat sipil yang tergabung dalam Aliansi Surabaya Sadar menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, pada Kamis sore. Aksi ini diselenggarakan untuk memperingati dua tahun masa kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Aksi Longmars dan Tuntutan Karhutla

Ratusan peserta aksi mengenakan pakaian serba hitam dan melakukan longmars dari Tugu Bambu Runcing di Jalan Panglima Sudirman menuju Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo. Setibanya di lokasi sekitar pukul 15.00 WIB, massa membentuk barisan melingkar di jalan raya.

Massa secara bergantian berorasi dan membentangkan spanduk protes seperti All Eyes on Karhutla, Surabaya Sadar, Cukup 2 Tahun, dan BBM Langka. Koordinator Lapangan Aksi Daniel Situmorang menyatakan bahwa demonstrasi ini merupakan gerakan akar rumput yang melibatkan mahasiswa, serikat pekerja, buruh, dan masyarakat sipil tanpa membawa atribut organisasi masing-masing.

Dalam orasinya, massa menyoroti krisis lingkungan hidup berupa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Mereka mendesak pemerintah agar segera menetapkan karhutla sebagai bencana nasional demi merespons jatuhnya korban jiwa serta penderitaan warga akibat infeksi saluran pernapasan akut.

Daniel menyebutkan bahwa tuntutan tersebut perlu segera direalisasikan tanpa harus terhalang urusan administratif yang rumit mengingat banyaknya nyawa yang sudah melayang. Pihak kepolisian sendiri telah menyiagakan kawat berduri, personel, dan kendaraan taktis di sekitar lokasi untuk mengamankan jalannya aksi.

Menanggapi pengamanan tersebut, Daniel yang juga aktivis BEM Unair melontarkan sindiran agar fasilitas negara berupa meriam air atau water cannon dikerahkan ke lokasi kebakaran hutan di Kalimantan.

Suara Emosional Korban Asap Karhutla

Dampak buruk kebakaran hutan turut disuarakan oleh Muhammad Athar Farizi, seorang peserta aksi asal Kalimantan Timur yang berkuliah di Universitas Airlangga Surabaya. Saat berorasi di tengah massa, Athar tak kuasa menahan tangis ketika menceritakan kondisi keluarganya di daerah asal.

Athar membeberkan bahwa keluarganya bersama warga sekitar sangat menderita akibat paparan asap tebal karhutla yang mengganggu kesehatan pernapasan serta melumpuhkan aktivitas harian mereka. Ia mengecam sikap para pemangku kebijakan baik di tingkat daerah maupun pusat yang dinilai abai terhadap penderitaan masyarakat kecil.

Massa menegaskan tidak memiliki target untuk berdialog dengan perwakilan Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan siap membubarkan diri secara tertib jika situasi tidak kondusif. Kendati demikian, mereka memastikan gerakan protes serupa akan terus berlanjut di masa mendatang.

Aksi unjuk rasa tersebut ditutup dengan pemasangan kain spanduk putih berisi empat tuntutan massa pada Patung Gubernur Suryo di Taman Apsari, Surabaya, yang berada tepat di seberang Gedung Grahadi.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *