Nasional

Kemenag Imbau Salat Istisqa Hadapi Kekeringan dan Karhutla

Kemenag Imbau Salat Istisqa Hadapi Kekeringan dan Karhutla

Kementerian Agama (Kemenag) RI menerbitkan Surat Edaran Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Nomor 8 Tahun 2026 yang mengatur tentang Pelaksanaan Salat Istisqa. Kebijakan ini dikeluarkan sebagai respons atas kondisi kekeringan, kekurangan air, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah Indonesia.

Panduan Salat dan Pelestarian Lingkungan

Direktur Jenderal Bimas Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa edaran tersebut berfungsi sebagai panduan bagi jajaran Kemenag serta masyarakat untuk mengadakan salat istisqa di daerah yang memerlukan hujan. Imbauan ini ditujukan kepada Kantor Wilayah Kemenag, Kantor Urusan Agama (KUA), penyuluh agama, hingga pengurus masjid serta majelis taklim di seluruh penjuru negeri.

Menurut Abu Rokhmad kepada CNN Indonesia, salat Istisqa merupakan bentuk ikhtiar spiritual untuk memohon hujan kepada Allah yang harus diimbangi dengan tindakan nyata dalam merawat lingkungan agar bencana dapat dicegah. Pihaknya mengajak masyarakat untuk memperbanyak istigfar, bersedekah, berhemat air, menjaga kelestarian alam, serta ikut serta mencegah terjadinya karhutla.

Panduan dalam edaran tersebut juga mengatur waktu serta lokasi pelaksanaan salat. Kegiatan ini dianjurkan pada pagi hari saat matahari sudah meninggi sebelum waktu Zuhur, atau dapat dilaksanakan pada waktu lain yang sesuai termasuk setelah salat Jumat. Lapangan terbuka menjadi lokasi utama, sementara masjid atau tempat layak lainnya menjadi pilihan alternatif jika kondisi tidak memungkinkan. Pengurus masjid juga diimbau mengumumkan jadwal pelaksanaan beberapa hari sebelumnya.

Pelaksanaan salat istisqa dilakukan sebanyak dua rakaat secara berjemaah tanpa didahului azan dan ikamah, serta dilanjutkan dengan khotbah, istighfar, dan doa sesuai tata cara resmi.

Peran Penyuluh Agama dan Penanganan Karhutla

Direktur Penerangan Agama Islam Kemenag, Muchlis Muhammad Hanafi, menekankan pentingnya peran lembaga dakwah dan penyuluh agama untuk menyebarluaskan pesan tersebut kepada masyarakat. Melalui berbagai kegiatan keagamaan seperti khotbah dan pengajian, warga dapat memahami tata cara salat sekaligus esensi menjaga alam.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dilansir CNN Indonesia, karhutla terpantau masih melanda sejumlah provinsi meliputi Jambi, Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Jumlah titik panas dalam kurun waktu 24 jam terakhir di enam provinsi tersebut mencapai 1.593 titik dengan 197 titik api.

Luas lahan yang terbakar dalam rentang waktu yang sama tercatat seluas 10.781 hektare, sementara wilayah yang sudah ditangani melalui operasi darat maupun udara seluas 877,76 hektare. Kondisi kualitas udara di wilayah terdampak berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya, dengan pengerahan 71.878 personel gabungan dari berbagai instansi untuk penanganan darurat.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *