Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memberikan klarifikasi terkait foto dirinya yang menggunakan tabung oksigen saat melakukan kunjungan kerja ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Ia menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak mengalami kondisi sesak napas seperti narasi yang ramai beredar di media sosial.
Tujuan Penggunaan Tabung Oksigen
Melalui akun Instagram resminya @bgsadikin, seperti dilaporkan CNN Indonesia, Budi mengakui keaslian foto tersebut namun menyebut narasi yang menyertainya keliru. Ia menjelaskan bahwa dirinya tetap memakai masker KN95 selama kunjungan berlangsung.
Aksi mengenakan tabung oksigen itu dilakukan untuk memberikan informasi serta edukasi kepada masyarakat mengenai ketersediaan fasilitas Rumah Oksigen di Palangka Raya. Kunjungannya bertujuan memastikan kesiapan operasional Rumah Oksigen yang dikelola oleh Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Bus Oksigen Keliling milik Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Fasilitas tersebut disiapkan sebagai langkah mitigasi bagi warga yang terdampak oleh polusi udara, khususnya saat terjadi bencana kebakaran hutan dan lahan. Rumah Oksigen telah dilengkapi dengan sistem penyaringan udara menggunakan high-efficiency particulate air (HEPA).
Fasilitas dan Imbauan Penanganan
Budi menjelaskan, warga yang merasakan keluhan sesak napas dapat mendatangi lokasi tersebut untuk beristirahat sambil memperoleh bantuan oksigen di bawah pengawasan tenaga kesehatan. Apabila membutuhkan penanganan lanjutan, pasien akan segera dirujuk ke rumah sakit.
Selain Rumah Oksigen permanen, pemerintah provinsi juga menyediakan Bus Oksigen Keliling guna membantu masyarakat yang terkendala akses menuju fasilitas tetap. Ketersediaan oksigen ini dinilai sangat penting, terutama bagi para relawan pemadam kebakaran yang rentan terpapar polusi udara pekat ketika bertugas di lapangan.
Paparan polusi yang tinggi dapat mengganggu fungsi pernapasan serta menurunkan kadar oksigen di dalam darah. Budi mengungkapkan bahwa tingkat saturasi oksigen para relawan pemadam kebakaran terkadang merosot hingga di bawah 90 persen.
Masyarakat diimbau agar tidak meremehkan gejala sesak napas, terutama di tengah ancaman polusi udara akibat kebakaran hutan dan lahan. Warga yang mengalami gejala tersebut diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan atau pusat oksigen terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan medis yang tepat tanpa menunggu kondisi kesehatan semakin memburuk.








