Daftar Isi
Tim gabungan dari Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, dan Bareskrim Polri menggagalkan upaya penyelundupan satu ton ketamin yang diangkut menggunakan kapal tanker MT Global 168. Dalam operasi penindakan di perairan Tanjung Balai Asahan tersebut, petugas turut mengamankan delapan orang awak kapal.
Lacak Rekam Jejak Kapal dari Dokumen Dok
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menjelaskan bahwa pemantauan terhadap pergerakan kapal MT Global 168 telah dilakukan sejak Agustus 2026. Petugas berhasil mengidentifikasi kapal tersebut setelah menemukan dokumen penggalangan kapal (docking) saat menangkap kapal Fushanxing 1, yang sebelumnya membawa 800 kilogram ketamin bersama empat tersangka.
Suyudi menyampaikan bahwa analisa terhadap pergerakan kapal sasaran membutuhkan waktu dan proses pemantauan yang panjang. “Kita memang seperti itu. Kita selalu menganalisa kapal itu tidak sebentar, ya, tiga bulan tuh paling sebentar, enam bulan. Ya, nah identitas kapal ini terungkap, ya, dari dokumen docking yang ditemukan di atas kapal yang kita tangkap sebelumnya,” kata Suyudi dalam konferensi pers di Pelabuhan Bengawan pada Jumat (23/10/2026).
Anomali AIS dan Pergerakan Kapal di Selat Malaka
Perjalanan MT Global 168 bermula pada September 2026 dari lokasi dok di Pasir Gudang, Johor, Malaysia, menuju perairan Laut Andaman, Thailand. Kapal sempat singgah di Port Klang guna mengisi pasokan air serta bahan bakar sebelum melanjutkan pelayaran untuk memindahkan muatan narkotika antar-kapal (ship-to-ship) di Laut Andaman.
Menurut penjelasan Suyudi, transaksi di tengah laut lepas kerap menjadi modus utama yang dimanfaatkan para penyelundup barang haram dari luar negeri. Para pelaku dari berbagai wilayah biasanya bertemu di perairan Laut Andaman atau Selat Malaka untuk mengalihkan muatan dari satu kapal ke kapal penampung.
Pada pekan kedua Oktober 2026, tim analis mendeteksi kejanggalan ketika MT Global 168 mematikan sistem pemantauan otomatis atau Automatic Identification System (AIS) selama 3 hari 17 jam. Petugas mengaitkan tindakan menonaktifkan sinyal ini sebagai cara menghindari radar aparat penegak hukum yang justru memicu kecurigaan tim gabungan.
Data pemantauan mencatat kapal bergerak melintasi Selat Malaka sejak Rabu (14/10) hingga Kamis (15/10) menuju arah barat laut dengan kecepatan antara 5 hingga 6 knot. MT Global 168 melintas di perairan utara Aceh atau Langsa pada Kamis malam, sebelum tiba di wilayah terluar Thailand pada Jumat (16/10) dan melakukan manuver memutar.
Sinyal AIS merekam 161 parameter lokasi kapal yang berada di kawasan labuh jangkar pada Minggu (18/10) dengan kecepatan 5,8 knot akibat pengaruh pergerakan jangkar atau arus laut. Tim gabungan juga mendapati anomali nomor MMSI kapal yang memancarkan dua identitas ganda, yaitu sebagai kapal tanker MT Global 168 dan kapal tunda Rovos Ki Dotim.
Intersepsi dan Penangkapan Awak Kapal
Berbekal temuan indikasi anomali tersebut, tim BNN, Bea Cukai, dan Polri menyiapkan langkah pencegatan pada Senin (19/10). Operasi dilancarkan dengan mengerahkan kapal patroli Bea Cukai BC 20006 serta KP Murai 4018 untuk menghadat kapal sebelum memasuki Pelabuhan Port Klang.
Petugas berhasil menyergap kapal MT Global 168 di kawasan perairan Tanjung Balai Asahan untuk diproses lebih lanjut. Dari hasil penggeledahan di lokasi, petugas mengamankan delapan orang kru yang berada di atas kapal.
“Kedelapan awak kapal ini terdiri dari tujuh orang warga negara Indonesia, ya, dan satu orang warga negara asing, ya, WNA asal Tiongkok/Taiwan,” kata Suyudi.
Sumber: Berita - Detikcom








