Daftar Isi
Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan pidato dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu (21/10). Dalam taklimatnya, ia menyinggung berbagai aspek mulai dari politik, tantangan global, hingga persoalan ekonomi.
Kinerja Kabinet dan Respons Koalisi Gemuk
Prabowo memuji kinerja jajarannya yang dinilai memuaskan selama dua tahun pertama kepemimpinannya di bawah Kabinet Merah Putih dalam menghadapi tantangan berat seperti konflik perang terbuka dan perang dagang. Seperti dilaporkan CNN Indonesia, ia mengakui koalisi politiknya sangat besar karena ingin merangkul seluruh kekuatan untuk memperbaiki kehidupan rakyat.
Menurut Prabowo, kelemahan bangsa Indonesia terletak pada para elit yang masih terkotak-kotak dan mengedepankan ego sektoral. Ia menilai perbedaan dalam demokrasi memang diperlukan, namun persatuan nasional tetap yang utama guna menghindari kekacauan seperti yang terjadi di negara-negara Barat.
Intervensi Asing dan Ancaman Global
Prabowo mengungkapkan bahwa berbagai pemberontakan di masa lalu seperti Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), Angkatan Perang Ratu Adil (APRA), Republik Maluku Selatan (RMS), PRRI/Permesta, hingga Pemberontakan Madiun 1948 kerap diintervensi pihak asing. Kendati demikian, ia menegaskan Indonesia memiliki ketahanan nasional yang kuat dan berhasil mematahkan ramalan yang menyebut negara ini akan pecah pada 1997 hingga 1998.
Ia juga mengingatkan bahwa pangan, mata uang, serta kegiatan ekspor impor kini telah berubah menjadi senjata dalam persaingan global. Oleh karena itu, bisnis tidak bisa dipandang secara murni bisnis dan menuntut pemerintah memperhitungkan hubungan antara ekonomi, politik, serta pertahanan.
Penanganan Kebakaran Hutan dan Pesan untuk MSCI
Terkait kebakaran hutan dan lahan, Prabowo menyatakan peristiwa tersebut bukan murni faktor alam melainkan ulah manusia yang dikategorikan sebagai terorisme lingkungan serta kejahatan terhadap kemanusiaan. Ia memerintahkan aparat dan intelijen untuk mengusut tuntas korporasi yang terlibat serta mencabut seluruh izin perusahaan yang terbukti melanggar.
Dalam bidang ekonomi, Prabowo memberikan tanggapan terbuka kepada penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). Ia menegaskan bangsa Indonesia tidak gentar menghadapi tekanan di tengah usulan perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market yang diumumkan MSCI pada 16 Oktober 2026 dan menunggu keputusan final selambat-lambatnya 30 Juni 2027.








