Seekor macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) tertangkap kamera jebak saat melintas di Cagar Alam Nusakambangan Barat, Kabupaten Cilacap. Satwa dilindungi tersebut teridentifikasi melalui observasi singkat yang diadakan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah pada 12 hingga 15 Oktober.
Perkiraan Populasi di Nusakambangan
Kepala Resor Konservasi Sumber Daya Alam (RKSDA) Wilayah Cilacap Wahyono Restanto menuturkan bahwa hasil rekaman tersebut berasal dari pemantauan terbatas. Karena itu, data visual ini belum dapat dipakai sebagai acuan untuk menetapkan angka pasti populasi satwa di seantero pulau.
“Pemantauan kemarin hanya sebentar. Yang tertangkap kamera trap satu individu, kemungkinan terekam pada Selasa (13/10) malam hingga Rabu (14/10) dini hari,” ujar Wahyono seperti dilansir Antara.
Berdasarkan kajian terkini, jumlah macan tutul Jawa di Pulau Nusakambangan ditaksir mencapai sekitar 20 ekor. Wahyono merinci, wilayah Cagar Alam Nusakambangan Barat beberapa kali terdata dihuni empat ekor macan tutul, sedangkan Cagar Alam Nusakambangan Timur dihuni sekitar enam ekor. Adapun satwa lainnya menempati kawasan hutan di luar zona cagar alam.
Keanekaragaman Hayati dan Potensi Gangguan Habitat
Selain macan tutul, pemasangan kamera pemantau tersebut mendeteksi keberadaan beragam fauna lain, seperti kancil, kijang, biawak, dan landak. Pada periode pengamatan sebelumnya di Nusakambangan, petugas juga sempat mendapati sejumlah satwa langka yang dilindungi, meliputi binturong (Arctictis binturong), kucing hutan (Prionailurus bengalensis), hingga elang Jawa (Nisaetus bartelsi).
Menanggapi kegiatan pembangunan yang berlangsung di sejumlah area Nusakambangan, Wahyono menilai aktivitas fisik tersebut berpotensi memengaruhi habitat serta pergerakan fauna setempat. Kendati begitu, pihaknya belum menjalankan penelitian mendalam terkait besaran dampaknya karena fokus pengawasan saat ini masih terpusat di kawasan cagar alam.
Wahyono mengingatkan warga, pekerja proyek, serta aparat lembaga pemasyarakatan di Nusakambangan agar tidak memburu, melukai, atau mengusik fauna yang ditemui. Masyarakat yang berpapasan langsung dengan macan tutul diminta tidak panik, tidak memprovokasi, dan segera menjauh secara perlahan guna mencegah konflik dengan satwa liar.
Sumber: Berita - Detikcom








