Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mendorong kalangan kesehatan masyarakat untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan kesehatan nasional. Melalui penerapan strategi Triple 80, pemerintah menargetkan penurunan angka kematian akibat penyakit kardiovaskular, stroke, dan ginjal hingga 80 persen.
Urgensi Perubahan Strategi Kesehatan
Menurut Budi, pendekatan yang terlalu bertumpu pada rumah sakit, dokter spesialis, obat-obatan, serta alat kesehatan mahal akan membuat pembiayaan kesehatan semakin berat. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian faktor risiko perlu dijadikan prioritas utama dalam membangun sistem kesehatan.
Budi menyampaikan dorongan tersebut saat memberikan materi dalam Kongres Nasional XVI dan Forum Ilmiah Tahunan XII Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di Gedung Nusantara V, Kompleks MPR/DPR RI, Jakarta, pada Jumat, 30 Oktober 2026, seperti dilaporkan Liputan6.com. Ia menilai para ahli kesehatan masyarakat harus lebih percaya diri dalam memimpin sektor kesehatan di tanah air.
Budi membandingkan efisiensi belanja kesehatan di beberapa negara. Amerika Serikat memiliki usia harapan hidup sekitar 79 tahun dengan biaya per kapita 11.900 dolar Amerika Serikat per tahun, sementara Panama dan Kuba mencatatkan usia harapan hidup serupa dengan biaya 1.900 dolar Amerika Serikat.
Sementara itu, Jepang dan Singapura mencatatkan usia harapan hidup sekitar 84 tahun dengan pengeluaran yang lebih efisien berkat fokus menjaga masyarakat tetap sehat. Di sisi lain, usia harapan hidup di Indonesia berada di kisaran 74 tahun dengan belanja kesehatan per kapita sekitar 130 dolar Amerika Serikat.
Budi memperkirakan kebutuhan dana bisa mencapai sekitar Rp1.800 triliun jika Indonesia ingin menyamai tingkat belanja kesehatan Malaysia sebesar 300 dolar Amerika Serikat per kapita. Angka tersebut jauh melampaui anggaran belanja kesehatan saat ini yang berada di angka Rp640 triliun.
Ia menegaskan bahwa kementerian yang dipimpinnya bukanlah kementerian kesembuhan maupun kedokteran, melainkan kesehatan. Untuk itu, Fakultas Kesehatan Masyarakat diharapkan memiliki posisi yang kuat dalam menentukan arah kebijakan agar negara tidak terbebani biaya pengobatan orang sakit.
Penerapan Program Cek Kesehatan Gratis
Dalam menjalankan upaya pencegahan, Budi menyebut Program Cek Kesehatan Gratis yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto sebagai peluang besar. Program tersebut dilaporkan telah menjangkau sekitar 130 juta orang pada bulan ini.
Data dari pemeriksaan seperti tekanan darah, gula darah, kolesterol, hingga indeks massa tubuh dapat dimanfaatkan untuk menyusun intervensi yang terukur. Budi menargetkan agar sebelum dirinya menyelesaikan masa jabatan, separuh populasi sudah menjalani skrining dan kelompok dengan risiko dapat segera diobati hingga kondisinya terkendali.
Melalui penerapan skema Triple 80, pemerintah berupaya memastikan 80 persen penduduk menjalani pemeriksaan, 80 persen warga yang bermasalah mendapat pengobatan, serta 80 persen dari kelompok yang diobati berhasil mencapai kondisi stabil. Budi meyakini langkah tersebut dapat menurunkan beban pembiayaan BPJS Kesehatan sekaligus menekan angka kematian akibat penyakit serius.
Sumber: Liputan6.com Peristiwa








