Daftar Isi
Aktivitas harian di Aek Nauli Elephant Conservation Camp (ANECC) atau Pusat Konservasi Gajah Sumatra di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dimulai sejak pagi hari. Sebanyak 25 petugas bersama para pawang atau mahout merawat tujuh gajah Sumatra yang sebagian besar memiliki riwayat konflik dengan manusia.
Rutinitas Penggembalaan dan Pakan Gajah
Kepala Resor ANECC dan Cagar Alam Batu Gajah, Boby Natalisus Purba, menjelaskan bahwa tujuh gajah yang terdiri atas lima betina dan dua jantan tersebut berusia antara 20 hingga 47 tahun. Gajah-gajah itu meliputi Luis Figo, Bongkar, Siti, Ester Juwita, Pini Elpionita, Dini Anjani, dan Caicilia. Mayoritas satwa tersebut berasal dari Sumatera Selatan serta Sosa di Padanglawas, sementara Luis Figo merupakan hasil pengembangbiakan.
Setiap hari pada pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, para mahout membawa gajah ke dalam hutan untuk mencari pakan alami berupa rumput dan vegetasi. “Dari jam 09.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB gajah kita sudah diangon ke hutan. Di sana gajah kita makan pakan alami. Rumput-rumputan yang ada di hutan. Mahout kita sudah tahu mana-mana saja lokasi yang bisa diangon namanya,” kata Boby pada 26 September 2026.
Selain pakan alami, gajah-gajah tersebut memperoleh pakan tambahan berupa rumput gajah, pelepah kelapa sawit, serta buah-buahan seperti pisang, nanas, semangka, pepaya, dan tebu. Kebutuhan pakan harian diperkirakan mencapai 10 persen dari berat badan satwa atau sekitar 200 kilogram per hari untuk gajah berbobot dua ton.
Pemeliharaan dan Pemeriksaan Kesehatan
Pengelola melakukan penimbangan berat badan secara berkala setiap tanggal 26 setiap bulan untuk memantau kondisi kesehatan satwa. Menjelang sore hari pukul 14.00 hingga 16.00 WIB, gajah dibawa kembali untuk dimandikan di sungai dan menjalani pemeriksaan kesehatan harian oleh tiga perawat satwa.
Pemeriksaan mencakup telapak kaki, kuku, kulit, telinga, mata, hingga gading pada gajah jantan. “Harapan kami, jangan sampai gajah terluka atau sakit baru diperiksa. Kami ingin mengetahui kondisinya sejak awal, sehingga kalau ada masalah bisa segera ditangani,” ujar Boby.
Kawasan ANECC memiliki luas sekitar 2.400 hektare dengan area khusus pengelolaan gajah seluas 250 hektare yang memiliki medan cukup curam. Dalam menjalankan operasionalnya, pengelola bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Pertamina Patra Niaga melalui Fuel Terminal Pematangsiantar yang telah terjalin sejak 2018.
Dukungan Mitra dan Peran Edukasi
Fuel Terminal Manager Pematangsiantar Pertamina Patra Niaga, Zakharia Habibuw, menyatakan bahwa kerja sama tersebut merupakan komitmen perusahaan dalam mendukung pelestarian satwa dan lingkungan. Bantuan yang disalurkan meliputi pengembangan pakan rumput gajah, fasilitas timbangan, alat komunikasi handy talky, rantai gajah, mesin pompa air, tandon air, vitamin, hingga fasilitas pembiakan anggrek endemik.
Saat ini, kawasan ANECC belum dibuka sebagai destinasi wisata umum melainkan untuk keperluan edukasi dan kunjungan sekolah. “Jadi kalau mau berkunjung, langsung aja bersurat ke ke kita. Saya pastikan di sini tidak ada dipungut biaya. Cuma, saya terus terang saja kalau bisa pihak sekolah donasi buah, kami bersyukur,” tutur Boby.
Salah satu mahout bernama Aidil Adha Rahab menceritakan pengalamannya merawat gajah sejak 2017, termasuk mengenali karakter gajah seperti Pini Elpionita yang kerap merajuk jika tidak diberi buah. Aidil berharap kerja sama dalam pemenuhan pakan dan fasilitas dari Pertamina Patra Niaga dapat terus berlanjut untuk mendukung kelangsungan konservasi gajah di Aek Nauli.








