Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mencatatkan pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) sebanyak 1.724 kali di 35 kabupaten dan kota hingga Oktober 2026. Program intervensi pasar tersebut berhasil membukukan nilai perputaran transaksi atau omzet mencapai Rp31 miliar.
Pencapaian tersebut dipaparkan Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat meresmikan gelaran GPM serentak dalam rangka memperingati Hari Pangan Sedunia ke-46 di Lapangan Tlogo Resort, Kabupaten Semarang, Rabu (21/10). Luthfi menegaskan bahwa ketersediaan komoditas di pasar harus diiringi dengan daya beli masyarakat yang memadai, sehingga peran aktif pemerintah diperlukan tanpa mengorbankan kesinambungan para petani dan peternak.
Pendekatan Wilayah dan Pengendalian Inflasi
“Ketersediaan stok saja tidak cukup, tanpa adanya keterjangkauan dari masyarakat,” ujar Luthfi.
Guna mencegah salah sasaran, penentuan lokasi dan jenis komoditas yang disalurkan melalui GPM dilakukan berdasarkan survei kebutuhan tiap-tiap daerah. Wilayah yang mengalami kelangkaan bahan tertentu memperoleh prioritas pasokan. Luthfi menambahkan, eksekusi strategi tersebut bertumpu pada sinergi antardaerah, Bank Indonesia, dinas terkait, serta jajaran BUMN dan BUMD demi menjaga laju inflasi daerah tetap stabil.
Pada agenda yang sama, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jateng Mohamad Noor Nugroho menjelaskan bahwa angka inflasi di Jawa Tengah saat ini berada pada posisi 3,18 persen, berada di bawah capaian nasional yang menyentuh 3,28 persen. Meski begitu, stabilitas pangan di daerah tetap dihadapkan pada sejumlah tantangan seperti ancaman fenomena El Nino, serangan hama tikus, ongkos logistik, serta lonjakan permintaan berkala.
“Gerakan Pangan Murah seperti yang kita laksanakan hari ini, apalagi serentak, harapannya bisa mengendalikan inflasi secara keseluruhan di Jawa Tengah,” kata Mohamad Noor Nugroho.
Antusiasme Warga dan Penyaluran Bantuan
Kehadiran pasar murah ini dirasakan langsung manfaatnya oleh konsumen setempat. Seorang warga bernama Purwati menuturkan selisih harga kebutuhan pokok di lokasi acara cukup signifikan, seperti bawang merah yang dipatok Rp24.000 per kilogram dibanding harga warung sekitar Rp28.000 per kilogram. Gula pasir dijual seharga Rp16.000 per kilogram dari harga biasa Rp18.000 per kilogram, sementara minyak goreng dilepas Rp31.000 per dua liter dan telur ayam Rp20.000 per kilogram.
Warga lainnya, Maryam, turut mengapresiasi dan mengharapkan intensitas pasar murah serupa ditambah.
“Ya, alhamdulillah sangat terbantu. Mudah-mudahan sering ada ya di sini. Terima kasih Bapak Presiden, terima kasih Bapak Gubernur. Sering-sering mengadakan pasar seperti ini, sangat-sangat membantu,” pungkas Maryam.
Khusus penyelenggaraan di Kabupaten Semarang, panitia mendatangkan 7,5 ton beras dengan banderol mulai Rp57.000 per lima kilogram, 2.000 liter minyak goreng seharga Rp15.500 per liter, serta aneka komoditas lain seperti telur, daging ayam, cabai, aneka bawang, hingga sayur-mayur. Di samping itu, dialokasikan pula lima ton beras bersubsidi senilai Rp12.000 per kilogram dan 300 kilogram beras organik seharga Rp15.000 per kilogram.
Selain menjual pangan untuk masyarakat umum, Pemprov Jateng mengucurkan 12 ton jagung bersubsidi bertarif tebus Rp5.500 per kilogram kepada peternak kecil dengan kepemilikan di bawah lima ribu ekor, serta membagikan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) bagi 505 warga di Desa Delik dan Desa Tuntang.








