Tim gabungan dari berbagai instansi dikerahkan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan lereng Taman Nasional Gunung Ciremai wilayah Pasawahan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat sejak Rabu malam. Opsi pemadaman via jalur udara atau water bombing menjadi pertimbangan dalam menangani peristiwa tersebut akibat sulitnya medan di lokasi.
Koordinasi Water Bombing dan Penambahan Personel
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar mengatakan penguatan personel melibatkan unsur TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Perhutani, petugas pemadam kebakaran, masyarakat peduli api, serta tambahan personel dari Kabupaten Majalengka dan Cirebon. Menurut Dian, proses pemadaman darat menjadi sangat sulit dan berbahaya apabila api menjalar ke lereng-lereng yang terjal dan berbatu.
Ia menyebut medan yang curam serta vegetasi yang mengering dan embusan angin mempercepat perambatan api di kawasan tersebut. Pemerintah Kabupaten Kuningan telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengupayakan dukungan helikopter melalui metode water bombing guna menjangkau titik api yang sulit dicapai personel darat, seperti dilaporkan CNN Indonesia.
Pemerintah daerah juga menyiapkan tim medis dari puskesmas terdekat untuk memantau kesehatan petugas dan relawan. Dian mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah sembarangan dan mewaspadai puntung rokok karena rumput di jalur pendakian sangat mudah tersulut.
Hingga Kamis petang, upaya pengendalian masih berlangsung melalui pemadaman darat dan pembuatan sekat bakar. Kebakaran yang pertama kali terpantau pada Rabu malam tersebut telah berkembang dari perkiraan sekitar lima hektare menjadi puluhan hektare.
Bantuan Personel dan Kendala di Lapangan
Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Cirebon turut mengirimkan 48 personel gabungan dari unsur BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, dan Taruna Siaga Bencana untuk membantu penanganan di lapangan. Sekretaris Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon Syamsul Huda mengatakan pihaknya juga menyiapkan peralatan pendukung berupa pompa alkon, penampungan air, toren, serta logistik.
Humas Masyarakat Peduli Api Silihwangi Majakuning, Asep, menjelaskan kebakaran semakin meluas karena minimnya air dan kencangnya angin sejak terdeteksi pada Rabu malam pukul 20.44 WIB. Asep memaparkan bahwa tidak adanya embung penampung air serta jarak mata air yang jauh menjadi hambatan utama dalam pemadaman.
“Sekarang api belum tertangani masih besar menuju sebelah Barat ke area atas, di situ kan ada zona rimba. Pertama titiknya itu katanya di Seda, sekarang sudah di Blok Yanggo Desa Cibuntu dari jam 4 pagi itu,” ucap Asep, dikutip dari detikJabar.
Akibat keterbatasan sarana, para relawan masih memadamkan api secara manual menggunakan ranting pohon dan jet shooter berkapasitas terbatas, serta membuat sekat bakar. Sementara itu, Koordinator Urusan Data, Evaluasi, Pelaporan, dan Kehumasan Taman Nasional Gunung Ciremai, Eska Nata Suryana, menuturkan pihaknya bersama relawan dan masyarakat masih terus berupaya melakukan pemadaman di lokasi.








