Nasional

Kasus ISPA Balita akibat Karhutla Masuk Kedaruratan Kesehatan

Kasus ISPA Balita akibat Karhutla Masuk Kedaruratan Kesehatan
Daftar Isi
  1. Kondisi Kedaruratan Kesehatan dan Dampak Asap Karhutla
  2. Kisah Korban Anak di Tengah Kepungan Asap
  3. Ancaman Partikel Polutan bagi Anak-anak

Pakar kesehatan menyatakan bahwa lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang puluhan ribu balita di tengah kepungan kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah mencapai tahap kedaruratan kesehatan. Kondisi darurat ini dipicu oleh ancaman polusi udara parah yang menyebar luas dan mengancam kelompok rentan di berbagai wilayah.

Kondisi Kedaruratan Kesehatan dan Dampak Asap Karhutla

Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat (IAKMI), Hermawan Saputra, menyatakan kepada BBC News Indonesia bahwa angka kasus yang tercatat berpotensi jauh lebih besar di lapangan karena fenomena gunung es. Menurutnya, masalah kesehatan ini tidak hanya melanda satu wilayah saja, melainkan mencakup dua pulau besar yaitu Kalimantan dan Sumatra.

Merujuk pada data Kementerian Kesehatan per 12 Oktober 2026, tercatat ada 277.075 kasus ISPA akibat karhutla di 63 kabupaten atau kota dari tujuh provinsi terdampak. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62.400 kasus atau 22,5 persen di antaranya menimpa anak-anak usia nol hingga lima tahun.

Hermawan mengingatkan bahwa jika masalah ISPA tidak ditangani secara cepat, berbagai program prioritas pemerintah seperti penanganan stunting dan tuberkulosis dikhawatirkan akan mandek. Ia juga mendesak agar pemerintah memperkuat tindakan penyelamatan di puskesmas dengan menyediakan masker, oksigen, dan tenaga kesehatan secara memadai.

Kisah Korban Anak di Tengah Kepungan Asap

Di tengah bencana kabut asap tersebut, sejumlah anak dilaporkan meninggal dunia setelah mengalami gangguan pernapasan. Salah satunya adalah balita berusia 14 bulan bernama Yazlyn Syanindita di Samarinda, Kalimantan Timur, yang akrab dipanggil Canin.

Ibu korban, Cindy, menuturkan bahwa kesehatan putrinya menurun drastis sejak sebulan terakhir akibat kabut asap yang mengepung perkampungan mereka. Setelah sempat mengalami kesulitan bernapas dan mendapat penanganan medis, kondisi Canin memburuk hingga akhirnya meninggal dunia di ruang rawat inap rumah sakit.

Cindy menyampaikan kritik agar pemerintah tidak meremehkan situasi tersebut. Ia mendesak pihak berwenang untuk lebih peka terhadap keselamatan warga yang terdampak kabut asap parah.

“Pemerintah jangan buta. Jangan bilang kondisi asap tidak parah. Banyak yang kena ISPA. Kemarin di ruangan inap anak saya, ada tiga balita semua sesak napas. Tolong jangan sepelekan asap karhutla,” tegas Cindy.

Dokter spesialis anak yang merawat Canin, Ikhsan Ali, menyatakan bahwa pasien memang mengalami gangguan pernapasan dan sempat memperoleh perawatan sebelum kondisinya memburuk. Namun, pihak medis belum dapat memastikan apakah karhutla menjadi penyebab tunggal kematian pasien karena gangguan pernapasan pada anak dapat dipicu oleh berbagai faktor lain seperti pneumonia.

Kasus serupa juga dialami oleh seorang anak berusia enam tahun bernama Anya Shezan Banafsya di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Berdasarkan surat kematian dari rumah sakit, anak kedua dari Nurul Khadafit tersebut meninggal dunia akibat gagal napas yang disertai syok sepsis setelah menjalani perawatan intensif.

Ancaman Partikel Polutan bagi Anak-anak

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Respirasi, Fifi Sofiah, menjelaskan bahwa kabut asap karhutla menghasilkan partikel polutan berukuran sangat kecil yang tidak kasatmata, yakni PM10 dan PM2.5. Ukuran partikel tersebut bahkan lebih tipis daripada sehelai rambut manusia sehingga mampu menembus saluran pernapasan bagian terdalam hingga masuk ke aliran darah.

Komposisi kimiawi dari tanah gambut tropis yang terbakar juga dinilai lebih toksik dan berbahaya bagi kesehatan. Risiko tersebut semakin meningkat karena anak-anak memiliki laju pernapasan yang jauh lebih sering dibandingkan orang dewasa, sementara sistem kekebalan tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan demi meminimalisir paparan polusi. Apabila terpaksa beraktivitas di luar rumah, masyarakat diminta mengenakan masker, pelindung mata, serta pakaian berlengan panjang.

Orang tua juga disarankan untuk memantau kualitas udara secara berkala, menjaga kebersihan udara di dalam ruangan, serta segera membawa anak ke fasilitas kesehatan terdekat apabila mengalami gejala sesak napas atau penurunan kesadaran.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *