Daftar Isi
Penerapan gaya hidup hemat atau frugal living kini telah bergeser dari sekadar tren modern menjadi strategi esensial untuk bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi. Konsep ini menekankan pengelolaan keuangan yang bijak dengan memprioritaskan kebutuhan utama di atas keinginan dasar serta menekan pengeluaran impulsif.
Refleksi Konsumerisme Perkotaan
Budayawan Seno Gumira Ajidarma dalam buku Tiada Ojek di Paris mengkritik obsesi kepemilikan mobil kaum urban di Jakarta yang kerap dipuja sebagai simbol kesuksesan dan strata sosial. Dalam tulisan berjudul Mobil: Sebuah Mitos, ia menyoroti bagaimana warga kota membeli kendaraan demi gengsi modernitas meskipun akhirnya harus terjebak dalam kemacetan parah.
Pandangan tersebut memberikan landasan filosofis bagi penerapan frugal living secara jujur untuk menyadari bahwa sejumlah kebutuhan di kota besar hanyalah mitos yang dibentuk oleh industri dan tuntutan pergaulan. Membeli barang yang kehilangan fungsi utamanya demi memuaskan ego dipandang sebagai bentuk pemborosan terbesar.
Pengalaman Kelas Menengah Menjalani Frugal Living
Hal tersebut dirasakan oleh Intan Fauzi (34), seorang Pegawai Negeri Sipil di Jakarta yang berada di posisi rentan kelas menengah dengan gaji cukup namun pengeluaran besar untuk keluarga. Dirinya menerapkan mekanisme berpikir satu hari sebelum memutuskan membeli sesuatu untuk menahan diri dari belanja impulsif.
Pendapat serupa disampaikan Nur Aisah Zamil (24), pegawai swasta di Jakarta yang mulai mengontrol keuangannya agar tidak menghabiskan uang untuk keinginan sesaat akibat paparan media sosial. Aisah kini membuat batasan pengeluaran untuk kebutuhan seperti skincare dan pakaian guna membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak usia muda.
Dampak terhadap Perekonomian Nasional
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi melihat pola penghematan ini sebagai bentuk preferensi sekaligus penurunan daya beli akibat ruang finansial masyarakat yang tertekan. Kenaikan rata-rata upah buruh tidak sebanding dengan angka inflasi, sehingga masyarakat menjadi jauh lebih selektif dalam membelanjakan uang.
Syafruddin mencatat bahwa kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah menyumbang porsi besar terhadap konsumsi masyarakat, sehingga tekanan finansial yang dialami kelompok ini akan cepat terasa pada perekonomian. Pengereman belanja yang meluas berpotensi berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sumber: Liputan6.com Megapolitan








