Kabut asap tebal akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti berbagai wilayah di Sumatera Selatan pada Kamis (22/10) pagi. Kondisi tersebut membuat jalan-jalan perkotaan tertutup kabut dengan tingkat jarak pandang yang sangat terbatas, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat sejak pagi hari.
Dampak Kabut Asap dan Keluhan Warga
Berdasarkan pantauan langsung, tingkat ketebalan kabut asap terus meningkat dari hari ke hari seiring memburuknya kualitas udara. Sejumlah warga mulai mengeluhkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari mata perih, sesak napas, hingga batuk yang disertai flu.
“Semakin tebal, mengganggu aktivitas sehari-hari, mata perih sesak napas, seperti berada di atas awan, panas tebal, asap semua,” ujar Hendra Basirin, seorang warga Palembang.
Selain masalah kesehatan, warga turut mempertanyakan efektivitas langkah penanganan yang telah dilakukan pemerintah beberapa hari sebelumnya menggunakan metode penyemaian es kering atau dry ice.
Warga menilai penggunaan bahan tersebut tidak memberikan hasil jangka panjang karena efeknya hanya bertahan sesaat saja. Penggunaan dry ice disebut hanya bertahan sehari lalu kabut kembali pekat, sehingga dinilai hanya menghabiskan anggaran tanpa menyelesaikan masalah.
Upaya Pemerintah dan Respons Warga
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BRIN telah melakukan operasi penyemaian 1.600 kilogram dry ice beserta 800 kilogram garam pada 19 Oktober lalu. Langkah tersebut bertujuan untuk memecah pekatnya kabut asap sekaligus memicu terjadinya hujan buatan.
Menanggapi situasi ini, masyarakat mendesak Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Selatan untuk menunjukkan keseriusan serta tanggung jawab lebih besar. Karhutla yang telah berlangsung selama dua bulan tersebut dinilai belum kunjung dapat diatasi dengan tuntas.
Pihak BNPB menjelaskan bahwa operasi penyemaian dry ice merupakan bagian dari penerapan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Efektivitas dari teknologi ini sangat bergantung pada ketersediaan kondisi awan serta kecepatan angin di lapangan yang saat ini terpantau masih stagnan di kisaran lima hingga sepuluh kilometer per jam.








