Daftar Isi
Seekor hiu berukuran besar terjebak di sebuah kanal berdinding beton di Busan, Korea Selatan, dan memicu perhatian luas dari jutaan warga setempat. Ahli biologi kelautan Kim Hyun-woo bersama timnya langsung dikerahkan untuk memimpin operasi penyelamatan hewan tersebut setelah kemunculannya yang belum pernah terjadi sebelumnya di dekat pelabuhan sibuk itu.
Identifikasi dan Upaya Awal Penyelamatan
Tim dari National Institute of Fisheries Science memastikan bahwa hewan yang tersesat itu adalah seekor hiu kelabu atau dusky shark betina. Khawatir akan keselamatan warga yang mulai berkerumun di tepi kanal, penjaga pantai awalnya mencoba mengusir hiu tersebut menggunakan perangkat penghalau listrik berarus lemah.
Namun setelah lima jam, pejabat berwenang menyimpulkan bahwa hiu itu terlalu besar dan bergerak terlalu cepat untuk diarahkan dengan alat tersebut. Kim kemudian memutuskan untuk menunggu hiu itu keluar sendiri, tetapi hal tersebut tidak kunjung terjadi.
Fenomena Viral dan Daya Tarik Publik
Pemerintah kota sempat mengirimkan pesan peringatan darurat agar warga berhati-hati, yang justru memicu lonjakan pengunjung ke kawasan taman kanal tersebut. Warga setempat dan para penggemar kemudian memberi nama hiu itu Bukangi, diambil dari kata bukhang yang berarti pelabuhan di dekat lokasi.
Kepopuleran Bukangi melonjak tajam hingga sebuah perusahaan mendaftarkan namanya sebagai merek dagang, sementara pernak-pernik seperti pin, boneka, dan kaus dijual secara daring. Pemerintah Kota Busan bahkan memanfaatkan situasi ini dengan menayangkan siaran langsung Bukangi dan menjadikannya maskot resmi kota.
Menurut laporan BBC News Indonesia, lebih dari 1,6 juta orang mendatangi kanal tersebut untuk melihat hiu itu secara langsung. Wali Kota Busan menyatakan kehadiran Bukangi memberikan publisitas yang sangat berharga bagi kota pelabuhan tersebut.
Kendala Kesehatan dan Berbagai Upaya Pengusiran
Di balik antusiasme warga, para pejabat menghadapi masalah karena Bukangi sudah beberapa hari tidak terlihat mencari makan dan mengalami lecet berdarah pada moncongnya akibat menabrak dinding beton kanal. Profesor biologi kelautan Choi Yoon mengungkapkan kepada media setempat bahwa para ahli mengkhawatirkan adanya cedera kritis di sekitar mata hiu tersebut.
Berbagai metode penyelamatan terus dicoba, mulai dari penggunaan semburan jet air hingga pemasangan jaring melintasi kanal. Namun, Bukangi selalu berhasil kembali masuk, yang diduga Kim terjadi akibat gangguan pada sensor elektromagnetik di moncongnya atau kebingungan karena kebisingan kapal di pelabuhan.
Kementerian Kelautan Korea Selatan menduga masuknya Bukangi ke kanal tersebut berkaitan dengan menghangatnya suhu laut akibat hewan itu mengikuti kawanan ikan yang melimpah. Tercatat ada sekitar 50 hiu berukuran besar di perairan pantai timur Korsel pada paruh pertama tahun ini, atau empat kali lipat dari periode tahun sebelumnya.
Protes Warga dan Operasi Akhir
Sebagian penggemar yang terobsesi dengan Bukangi sempat menuntut agar hiu itu dibiarkan tinggal dan menolak pengusirannya. Pada Kamis, sekelompok warga datang membawa poster dengan slogan seperti membiarkan Bukangi hidup tenang dan mencopot jaring pembatas.
Kendati demikian, para ahli menegaskan bahwa bertahan di kanal akan membahayakan keselamatan Bukangi karena suhu yang semakin dingin menjelang musim gugur. Operasi akhirnya diambil alih oleh Kementerian Kelautan dengan mengerahkan sekitar 40 personel, termasuk penyelam akuarium Busan dan dokter hewan.
Setelah pemasangan jaring berlapis oleh para penyelam, Bukangi berhasil digiring keluar menuju perairan terbuka pada pekan ini. Profesor Choi meyakini hiu tersebut kini sedang beradaptasi di perairan yang lebih luas dan dalam, meski warga Korsel masih menanti perkembangan lanjutan dari nasib hewan tersebut.
Sumber: BBC News Indonesia








