Nasional

Palembang Kembali Diselimuti Asap Karhutla Usai Hujan

Palembang Kembali Diselimuti Asap Karhutla Usai Hujan
Daftar Isi
  1. Keluhan Warga
  2. Dampak Kemarau Panjang
  3. Penjelasan BMKG

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali menyelimuti Kota Palembang, Sumatera Selatan, pada Selasa pagi, setelah wilayah tersebut sempat diguyur hujan selama tiga hari berturut-turut. Berdasarkan pantauan di lapangan pukul 06.00 WIB, kabut tersebut tidak terlalu tebal tetapi bercampur dengan embun pagi.

Keluhan Warga

Kembalinya kabut asap ini dikeluhkan oleh warga setempat yang sempat berharap udara bersih setelah hujan turun beberapa hari sebelumnya. Salah seorang warga Palembang bernama Rio mengatakan kepada CNN Indonesia bahwa ia mengira kabut tersebut telah hilang sepenuhnya karena hujan yang turun selama tiga hari terakhir. Ia menyebutkan bahwa keluarnya ia dari rumah pada pagi hari masih mendapati sisa kabut yang dapat menyebabkan sesak napas.

Hal senada diungkapkan oleh Elly yang kembali memakaikan masker kepada anaknya saat hendak berangkat sekolah karena kabut yang bercampur embun terasa agak perih di mata dan pernapasan. Warga berharap hujan deras dapat kembali turun secara merata agar seluruh kabut asap tersebut benar-benar hilang dari wilayah mereka.

Dampak Kemarau Panjang

Sebelumnya, hujan perdana setelah kemarau panjang selama berbulan-bulan sempat membasahi Kota Palembang pada akhir pekan lalu, tepatnya Sabtu (24/10). Curah hujan tersebut disambut dengan penuh suka cita oleh masyarakat setelah lebih dari tiga bulan dilanda kemarau dan bencana kabut asap.

Fudin, seorang warga Kelurahan 7 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu 1, Kota Palembang, mengungkapkan rasa syukurnya saat hujan turun karena daerahnya sempat mengalami kesulitan air bersih dan maraknya kebakaran lahan akibat kemarau panjang. Senada dengan itu, Yuli warga Lorong Sepakat, Kelurahan 8 Ulu Palembang, mengaku sangat senang dengan turunnya hujan tersebut lantaran warga tidak perlu lagi merogoh kocek untuk membeli air bersih dengan harga yang cukup mahal demi kebutuhan sehari-hari.

Penjelasan BMKG

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Siswanto, menjelaskan bahwa potensi pertumbuhan awan hujan telah terdeteksi melalui pengamatan radiosonde atau profil atmosfer oleh BMKG Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang pada Sabtu pukul 07.00 WIB. Kondisi tersebut didorong oleh dinamika pergerakan angin vertikal yang berhasil memecah lapisan inversi, yakni lapisan atmosfer penghambat yang selama ini mengunci polutan asap di dekat permukaan tanah.

Selain faktor alam, potensi hujan itu juga dipicu oleh percepatan Operasi Modifikasi Cuaca secara hybrid yang dilakukan tim gabungan melalui penyebaran material karbon dioksida padat atau dry ice secara intensif di udara untuk mengurai gumpalan kabut asap karhutla di Sumatera Selatan. Tim memaksimalkan potensi awan hujan yang didukung oleh data model prakiraan cuaca serta bahan semai natrium klorida.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *