Nasional

Karhutla Landa Belasan Taman Nasional, Walhi Soroti Satgas

Karhutla Landa Belasan Taman Nasional, Walhi Soroti Satgas
Daftar Isi
  1. Penilaian Walhi Terhadap Satgas Taman Nasional
  2. Daftar Taman Nasional Terdampak Kebakaran
  3. Penanganan di Way Kambas dan Dampak Satwa

Sedikitnya 14 taman nasional di Indonesia dilaporkan mengalami kebakaran sepanjang 2026. Lembaga pemerhati lingkungan, Walhi, menyebut kejadian tersebut sebagai yang terbesar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Penilaian Walhi Terhadap Satgas Taman Nasional

Manager Kampanye Hutan dan Kebun Walhi Nasional, Uli Arta Siagian, menilai masifnya kebakaran di berbagai taman nasional menunjukkan gagalnya peran Satuan Tugas (Satgas) Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang dipimpin Hashim Djojohadikusumo. Menurut Uli kepada BBC News Indonesia, kekhawatiran lembaganya bahwa satgas tersebut dibentuk hanya berorientasi mendapatkan uang dengan klaim menjaga taman nasional akhirnya terbukti. Pihak BBC News Indonesia sudah menghubungi Wakil Ketua Satgas, Raja Juli Antoni, namun tidak ada tanggapan.

Uli mengungkapkan, ada tiga penyebab utama masifnya karhutla di taman nasional tahun ini. Pertama, minimnya jumlah pengawas hutan dibandingkan dengan luasan wilayah yang tidak diimbangi dengan pemanfaatan teknologi seperti yang dilakukan Brasil. Kedua, tidak dimaksimalkannya peran masyarakat di sekitar kawasan taman nasional karena ketiadaan pengakuan dari pemerintah. Ketiga, minimnya peran Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang dibentuk oleh Presiden Prabowo Subianto.

Daftar Taman Nasional Terdampak Kebakaran

Sejumlah taman nasional yang mengalami kebakaran sepanjang 2026 meliputi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru di Jawa Timur seluas 3.531 hektare dengan enam relawan meninggal dunia, serta Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi seluas 1.776 hektare. Kebakaran juga melanda Taman Nasional Gunung Ciremai di Jawa Barat seluas 30 hingga 60 hektare, Taman Nasional Tambora di Nusa Tenggara Barat seluas 1.956 hektare, dan Taman Nasional Manusela di Maluku seluas 26 hektare.

Selain itu, peristiwa serupa terjadi di Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya di Kalimantan Tengah seluas 121 hektare, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Jawa Barat seluas 20 hektare, serta Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara seluas 192 hektare. Kebakaran juga melanda Taman Nasional Matalawa di Sumba Tengah seluas 1,96 hektare, Taman Nasional Way Kambas di Lampung, serta Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di Sulawesi Selatan seluas hampir 26 hektare.

Wilayah konservasi lainnya yang turut terdampak adalah Taman Nasional Tanjung Puting di Kalimantan Tengah seluas 1.234 hektare yang ditangani lewat operasi modifikasi cuaca. Sementara itu, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Taman Nasional Wasur di Papua Selatan mencatat kebakaran seluas 8.708 hektare, dan Taman Nasional Lorentz di Papua seluas 6.532 hektare.

Penanganan di Way Kambas dan Dampak Satwa

Di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Humas Balai TNWK, Riri Fitriandi, menyampaikan bahwa titik api sempat muncul di wilayah utara berawa gambut sejak 19 September dan di dekat perbatasan PT Great Giant Pineapple sejak 22 Oktober. Petugas gabungan bersama TNI, Polri, dan masyarakat mengerahkan sekitar 350 personel serta terbantu oleh hujan yang turun, meski area gambut masih harus terus dibasahi untuk mencegah kemunculan bara api kembali.

Direktur Eksekutif Walhi Lampung, Irfan Tri Musri, kepada BBC News Indonesia, menyatakan bahwa terbakarnya kawasan konservasi berpotensi membuat satwa liar seperti gajah kehilangan wilayah jelajah dan sumber pakan. Kondisi tersebut dapat memicu konflik dengan manusia ketika satwa berpindah ke perkebunan atau permukiman, serta mengancam kelangsungan hidup satwa dalam jangka panjang.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *