Kesehatan

Capaian Kemenkes: Layanan CKG dan Penanganan TB Membaik

Capaian Kemenkes: Layanan CKG dan Penanganan TB Membaik
Daftar Isi
  1. Capaian Program Cek Kesehatan Gratis
  2. Pembangunan dan Fasilitas RSUD di Daerah Tertinggal
  3. Penanganan dan Penurunan Kasus Tuberkulosis

Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 109.300.240 warga Indonesia telah memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan secara gratis sepanjang 2026. Selain perluasan jangkauan fasilitas kesehatan di daerah tertinggal, angka estimasi insiden tuberkulosis di Indonesia juga mulai menunjukkan tren penurunan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat yang dijalankan selama 24 bulan terakhir. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers mengenai capaian dua tahun pemerintahan bidang kesehatan di Kantor Kementerian Kesehatan, Kamis (22/10).

Capaian Program Cek Kesehatan Gratis

Program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau 109.300.240 jiwa dari total target 130.344.650 sasaran. Angka tersebut mencakup sekitar 88 juta peserta CKG tahunan dan 21 juta peserta CKG sekolah, dengan jumlah pendaftar mencapai 116.313.018 orang.

Layanan pemeriksaan ini sudah beroperasi di 10.319 Puskesmas atau setara 99,8 persen dari seluruh Puskesmas terdaftar, yang tersebar di 514 kabupaten/kota pada 38 provinsi. Budi menjelaskan bahwa program CKG dirancang untuk menaikkan rata-rata angka harapan hidup masyarakat Indonesia dari 72 tahun menjadi 76 tahun.

Upaya peningkatan angka harapan hidup dilakukan melalui deteksi dini empat faktor risiko utama penyebab kematian mendadak, yaitu hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi (dislipidemia), dan obesitas. Keempat kondisi tersebut merupakan pemicu utama timbulnya stroke, serangan jantung, serta gagal ginjal.

“Kalau kita bisa mengukur keempat faktor risiko tadi, kita bisa menurunkan sampai 80 persen dari kematian yang disebabkan oleh penyakit kardiovaskular seperi penyakit jantung, pembuluh darah, stroke, serangan jantung, dan masalah ginjal,” ujar Menkes Budi.

Masyarakat yang terdeteksi memiliki risiko kesehatan akan mendapatkan penanganan dan pengobatan secara cuma-cuma di Puskesmas hingga indikator kesehatannya kembali stabil.

Pembangunan dan Fasilitas RSUD di Daerah Tertinggal

Pada pilar infrastruktur kesehatan, pemerintah telah menjalankan program pembangunan dan peningkatan status bagi 66 Rumah Sakit Umum Daerah di wilayah tertinggal yang sebelumnya berstatus Kelas D. Pembangunan tersebut direalisasikan secara bertahap.

Sebanyak 22 RSUD masuk dalam tahap pertama dan kedua pada 2025, dengan 21 unit di antaranya telah selesai 100 persen dan beroperasi penuh. Sementara itu, 20 RSUD terdaftar pada tahap ketiga dan keempat untuk tahun 2026, serta 24 RSUD sisanya dalam tahap perencanaan untuk tahun 2027.

Fasilitas kesehatan di wilayah terpencil seperti Kabupaten Kepulauan Anambas, Buru, Bengkulu Tengah, dan Kabupaten Keerom di Papua kini dilengkapi alat medis canggih yang setara dengan rumah sakit di Pulau Jawa. Peralatan medis tersebut meliputi mammografi untuk deteksi kanker payudara, CT scan, hingga cath lab untuk tindakan penyakit jantung dan stroke.

Kendati demikian, pemenuhan tenaga medis spesialis masih menghadapi kendala. Kementerian Kesehatan mencatat baru 34 unit atau sekitar 51 persen dari 66 RSUD tersebut yang memiliki tujuh jenis dokter spesialis dasar secara lengkap.

Penanganan dan Penurunan Kasus Tuberkulosis

Berdasarkan laporan WHO Global TB Report, estimasi kasus tuberkulosis di Indonesia turun menjadi 1.080.000 kasus pada 2026, dibanding 1.092.000 kasus pada 2024. Hingga Oktober 2026, petugas kesehatan telah mengidentifikasi dan melaporkan 666.985 kasus atau 61 persen dari target penemuan 972.000 kasus. Dari temuan itu, sebanyak 599.425 pasien atau 90 persen dari target telah memulai proses pengobatan.

Penjaringan kasus TB didukung oleh ketersediaan fasilitas portable X-ray dan mesin tes molekuler Near Point of Care di ribuan puskesmas. Skrining TB juga dipadukan dengan layanan CKG serta dilakukan langsung di lokasi aktivitas warga. Pemeriksaan telah mencakup 40.910 warga binaan di lapas dan rutan, 24.623 santri di pondok pesantren, serta 8.914 karyawan dan mitra pengemudi transportasi daring seperti Gojek dan Grab.

Di sisi terapi pengobatan, durasi perawatan pasien TB kini berhasil diperpendek menggunakan resep obat modern. Indonesia juga terlibat aktif dalam uji klinis tahap tiga untuk kandidat vaksin TB M72 yang diproyeksikan mulai diproduksi pada awal 2029.

“Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari 1 tahun dia minum obat setiap hari. Sekarang turun jadi 12 bulan, turun lagi jadi 6 bulan, yang terakhir kita sudah bisa ada yang bisa 4 bulan. Jadi dengan demikian, obat-obatan TB-nya makin lama makin mudah diterima oleh masyarakat,” pungkas Menkes.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *