AirNav Indonesia berpartisipasi dalam ajang Aviation Safety and Security Reverse Trade Mission (RTM) yang diadakan oleh United States Trade and Development Agency (USTDA) di Arlington, Virginia, Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, seperti dilaporkan detikcom, mereka memamerkan berbagai inovasi untuk memodernisasi layanan navigasi penerbangan.
Inovasi Teknologi dan Tantangan Wilayah Kepulauan
Direktur Teknik AirNav Indonesia, Zainal Arifin Harahap menjelaskan bahwa kemajuan teknologi ini dirancang demi memenuhi kebutuhan operasional navigasi di kawasan kepulauan. Beberapa inovasi yang dipamerkan meliputi pemanfaatan kecerdasan buatan, pertukaran informasi penerbangan, hingga sistem pemantauan gangguan sinyal navigasi satelit.
“Mengelola navigasi penerbangan di negara kepulauan menuntut adaptasi teknologi yang berkelanjutan. Kami tidak hanya berfokus menjaga keandalan fasilitas komunikasi, navigasi, dan pengawasan (Communication, Navigation, and Surveillance/CNS) yang ada, tetapi juga aktif mengembangkan inovasi berbasis digital dan kecerdasan buatan (AI) guna menjawab tantangan ruang udara yang semakin padat dan dinamis,” ucap Zainal melalui keterangan tertulis, Sabtu (31/10/2026).
AirNav bertanggung jawab atas layanan navigasi penerbangan di dua Flight Information Region (FIR), yaitu FIR Jakarta dan FIR Ujung Pandang, dengan total luas wilayah mencapai sekitar 7,79 juta kilometer persegi. Setiap harinya, instansi ini mengatur sekitar 5.000 penerbangan dengan area operasional yang berbatasan langsung dengan FIR milik 10 negara tetangga.
Sistem Digital dan Kolaborasi Global
Salah satu teknologi yang dipamerkan adalah Flight and Flow Information for a Collaborative Environment (FF-ICE) guna mempermudah pertukaran informasi penerbangan, yang sebelumnya sempat didemonstrasikan dalam APAC TBO Pathfinder Conference di Hanoi, Vietnam, pada tanggal 23 Juli 2025.
Selain itu, AirNav berkolaborasi dengan Telkom University dalam mengembangkan pembuatan NOTAM berbasis AI yang memanfaatkan model bahasa besar untuk mengubah masukan bahasa sehari-hari ke dalam format terstandar. Di sektor pemantauan, terdapat GNSS Radio Frequency Interference Monitoring untuk mendeteksi gangguan frekuensi radio pada sinyal navigasi satelit secara langsung, memetakan letaknya, serta mengirimkan peringatan.
Inovasi lainnya mencakup EMIRA yang merupakan sistem manajemen lalu lintas udara terintegrasi buatan internal, serta teknologi ADS-B berbasis Internet of Things demi memperluas cakupan pengamatan penerbangan.
Dalam acara tersebut, Zainal memaparkan rencana pengembangan Satellite-Based Augmentation System (SBAS), Remote/Digital Tower, serta Transponder Landing System (TLS) dengan peluang kolaborasi berupa studi kelayakan, uji coba teknologi, riset, dan peningkatan kompetensi personel.
“Forum ini membuka ruang kolaborasi teknis guna memastikan sistem navigasi nasional selaras dengan perkembangan standar keselamatan penerbangan global,” ungkap Zainal.
Sumber: Berita - Detikcom








