Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Indonesia kini menjadi episentrum baru peradaban Islam modern yang ramah, progresif, dan inklusif. Penegasan tersebut disampaikan saat ia menjadi pembicara kunci dalam forum internasional di Assisi, Italia, pada Selasa, 27 Oktober 2026.
Gagasan Pluralisme Progresif dan Ekoteologi
Forum bertajuk “Unarmed and Disarming Peace” tersebut merupakan bagian dari Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant’Egidio di Casa Leonori. Dalam kesempatan itu, Nasaruddin memaparkan dua pokok pemikiran sebagai peta jalan harmoni global, yaitu pluralisme progresif dan ekoteologi nusantara, seperti dilansir detikcom.
Terkait pluralisme progresif atau *beyond tolerance*, Nasaruddin menyatakan kerukunan di Kepulauan Nusantara tidak bersandar pada ego mayoritas-minoritas atau toleransi pasif semata. Konsep ini menuntut penghormatan tulus atas perbedaan nilai universal tanpa memaksa penyeragaman.
“Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Sementara itu, ekoteologi nusantara atau *beyond domination* memandang krisis iklim global berakar dari cara pandang teologi yang terlalu maskulin serta mengandalkan eksploitasi alam. Melalui sufisme Islam, ia mengajak dunia melihat aspek feminin ilahi agar manusia memperlakukan alam sebagai manifestasi keindahan Tuhan.
“Manusia dituntut melakukan eksplorasi yang merawat, bukan eksploitasi yang merusak,” tegasnya.
Sebagai contoh nyata, Nasaruddin memaparkan pengelolaan Masjid Istiqlal di Jakarta yang meraih sertifikasi bangunan hijau EDGE dari IFC. Berkat panel surya pintar dan efisiensi air wudu, masjid ini mampu menghemat energi hingga 23 persen dan air mencapai 36 persen.
Respons Tokoh Dunia dan Agenda Selanjutnya
Pemaparan Nasaruddin mendapat sambutan positif dari para tokoh dunia yang hadir. Penasihat Khusus Abrahamic Family House Uni Emirat Arab, David Rosen, mengapresiasi penekanan agar semangat Assisi diwujudkan dalam aksi persaudaraan konkret.
Tokoh Buddhisme Rissho Kosei-kai Jepang, Megumi Hirota Wada, serta Kardinal George Jacob Koovakad dari Takhta Suci turut memuji model kerukunan Indonesia dan Deklarasi Istiqlal 2024 sebagai inspirasi dialog teologis. Dukungan serupa disampaikan Presiden Dhammaraingsei Buddhist Association Kamboja Touch Sarith, pakar hukum internasional W. Cole Durham, serta pengamat perdamaian Mohammed Esslimani dan Valerie Reginer.
Dalam lawatannya ini, Nasaruddin didampingi oleh Staf Ahli Menteri Agama sekaligus Plt Direktur Jenderal Bimas Katolik Adiyarto Sumardjono. Agenda Menteri Agama berikutnya adalah bertolak ke Vatikan guna menemui Menteri Luar Negeri Takhta Suci Vatikan serta menjajaki kerja sama dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d’Islamistica (PISAI).
Sumber: Berita - Detikcom








