Bareskrim Polri membeberkan modus operandi sindikat internasional dalam kasus penyelundupan narkotika jenis ketamin seberat 1,16 ton menggunakan kapal tanker MT Global 168. Dari delapan orang yang diamankan, tujuh di antaranya merupakan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK).
WNI ABK Tidak Tahu Muatan Kapal
Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Cahyo Hutomo menjelaskan bahwa kasus ini berawal ketika YCY selaku manajer kapal MT Global 168 mencari ABK untuk kapal pembawa minyak. Sebanyak tujuh WNI kemudian bersedia bekerja, namun mereka sama sekali tidak mengetahui muatan asli yang diangkut kapal tersebut.
Cahyo menyampaikan bahwa dari total delapan orang yang diamankan dalam pemeriksaan, tujuh di antaranya adalah WNI dan satu orang lainnya merupakan warga negara Taiwan berinisial YCY. Berdasarkan hasil pendalaman, pihak kepolisian tidak menemukan adanya keterlibatan ketujuh WNI tersebut dengan jaringan narkoba.
“Jadi pada saat melaksanakan pelayaran, yang tujuh orang itu tidak tahu karena tujuan daripada tujuh orang itu sesuai dengan permintaan agen yang merekrutnya adalah mengangkut minyak. Sehingga kita tidak bisa menemukan mens rea kepada tujuh orang itu,” ujar Cahyo pada Selasa (27/10), seperti dilaporkan CNN Indonesia.
Oleh karena itu, ketujuh WNI tersebut tidak ditetapkan sebagai tersangka dan status hukum mereka hanya sebagai saksi. Selama pelayaran, para ABK itu hanya mengikuti instruksi dari tersangka YCY yang memegang kendali sebagai manajer kapal.
“Jadi tugas para pelaut itu hanya melaut saja. Sesuai dengan perintah, belok kanan, belok ke kiri, itu tugasnya si manajer kapal, ya. Maka kita tetapkan si manajer kapal sebagai tersangka,” tambahnya.
Modus Rekrutmen Awak Kapal Usia Lanjut
Lebih lanjut, Cahyo mengungkapkan bahwa sindikat narkotika jaringan internasional kerap menggunakan modus operan serupa untuk menjerat para awak kapal. Sasaran utama mereka biasanya adalah para pelaut yang sudah memasuki usia lanjut atau masa pensiun.
“Modus tersebut biasanya mereka itu merekrut para awak kapal yang usianya sudah tua, sudah masa pensiun. Sehingga bagi mereka kan ‘oh ini orang-orang yang perlu uang di masa tua’. Akhirnya mereka rekrut,” jelasnya.








