Daftar Isi
Raja Yordania Abdullah II memerintahkan aparat keamanan untuk bertindak tegas dan memburu pihak-pihak yang bertanggung jawab atas serangan bersenjata di sebuah gereja di Provinsi Karak. Insiden penembakan yang menargetkan upacara pemakaman di gereja Ortodoks Yunani di Desa Hammoud ini menewaskan sembilan orang dan melukai 40 lainnya.
Perintah Tegas Raja dan Pengetatan Keamanan
Saat memimpin rapat Dewan Keamanan Nasional, Raja Abdullah II menegaskan tidak ada ruang untuk kelonggaran dalam menjaga keselamatan warga negara dan menyebut aksi tersebut sebagai teror yang memalukan. Pemerintah Yordania juga mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari dengan bendera dikibarkan setengah tiang, sementara Perdana Menteri Jaafar Hassan menjamin pengerahan seluruh sumber daya keamanan untuk membawa para pelaku ke pengadilan.
Aparat keamanan memperketat pengamanan dengan mendirikan pos-pos pemeriksaan di jalan yang menghubungkan Karak dengan ibu kota Amman. Pasukan menghentikan kendaraan dan memeriksa identitas para penumpang, khususnya laki-laki, menyusul rekaman CCTV yang memperlihatkan tiga pria bersenjata genggam mendatangi lokasi kejadian.
Kesaksian Korban dan Suasana Mencekam
Tim BBC Arabic yang mengunjungi Rumah Sakit Militer Pangeran Ali di Karak mewawancarai sejumlah korban luka yang menggambarkan situasi penembakan berlangsung sangat menegangkan selama belasan menit. Salah satu saksi, Khalid al-Mdanat, mengatakan orang-orang di dalam gereja berdesakan dan menjatuhkan diri ke lantai untuk berlindung di bawah bangku saat tembakan terus dilepaskan.
Saksi lainnya, Nadia Halsa, menyamakan suara tembakan tersebut dengan getaran gempa bumi ketika ia keluar untuk mencari putranya dan mendapati banyak korban bergelimpangan di halaman gereja. Menteri Dalam Negeri Mazen Al-Faraya menyebut peristiwa ini sebagai operasi teroris oleh sekelompok ekstremis yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Kerajaan Hasyimiyah Yordania.
Kecaman Internasional dan Sikap Gereja
Patriarkat Ortodoks Yunani Yerusalem mengutuk keras serangan tersebut dan menegaskan bahwa insiden ini tidak akan merusak persatuan antara umat Muslim dan Kristen di Yordania. Sebagai bentuk solidaritas, lembaga tersebut menyerukan agar lonceng gereja di Yordania dan Palestina dibunyikan serentak.
Kecaman serupa juga datang dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, Presiden Lebanon Joseph Aoun, dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis yang menilai serangan terhadap rumah ibadah bertentangan dengan nilai kemanusiaan. Hingga Minggu, aparat keamanan Yordania masih melanjutkan perburuan terhadap para pelaku di tengah suasana duka dan ketegangan yang dirasakan warga setempat.
Sumber: BBC News Indonesia








