Daftar Isi
Sejumlah akademisi ilmu sosial dan politik menilai Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi memiliki gaya kepemimpinan yang merakyat, humanis, serta terbuka terhadap kolaborasi. Mereka juga menyoroti pentingnya pelibatan perguruan tinggi dalam membantu pemerintah merumuskan kebijakan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
Penilaian Akademisi terhadap Gaya Kepemimpinan
Penilaian tersebut mengemuka usai acara Welcoming Dinner Forum Dekan Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia (Fordekiis) di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Jumat (23/10). Dekan FISIP Universitas Mulawarman, Finnah Fourqoniah, menyatakan Ahmad Luthfi mampu memetakan persoalan di Jawa Tengah sekaligus menjelaskan langkah untuk mengatasinya.
Menurut Finnah, seperti dilaporkan CNN Indonesia, Ahmad Luthfi menunjukkan kepekaan tinggi terhadap kondisi masyarakat yang menjadi sasaran kebijakan pemerintah. Ia berharap pendekatan tersebut dapat menjadi referensi bagi daerah lain dalam menangani berbagai masalah pembangunan.
Senada dengan itu, Ketua Fordekiis Wawan Mas’udi menilai Ahmad Luthfi menempatkan kebutuhan masyarakat sebagai salah satu prioritas utama. Wawan menyebut gaya kepemimpinan tersebut sangat merakyat dan membumi dalam menyelesaikan masalah daerah.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Makassar, Supriadi Torro, menyatakan pemaparan Ahmad Luthfi mencerminkan pendekatan kepemimpinan yang humanis dan berorientasi pada penyelesaian masalah secara terukur.
Pentingnya Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi
Wawan Mas’udi menyoroti penerapan prinsip pemerintahan kolaboratif atau collaborative governance oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Menurutnya, pendekatan tersebut membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk berkontribusi dalam penyusunan kebijakan sekaligus memperoleh bahan kajian.
Ia menjelaskan bahwa perguruan tinggi memiliki hasil penelitian, inovasi, dan kapasitas keilmuan yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah. Sebaliknya, persoalan pembangunan di lapangan dapat menjadi objek penelitian untuk menghasilkan solusi yang aplikatif.
Menurut Wawan, kolaborasi pembangunan juga harus melibatkan dunia usaha dan masyarakat luas agar penyelesaian masalah dapat didukung berbagai sumber daya yang ada. Supriadi Torro menambahkan, perguruan tinggi berperan sebagai mitra pemerintah dalam menentukan arah kebijakan serta mengevaluasi persoalan yang belum terselesaikan.
Tantangan Pembangunan di Jawa Tengah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah menjalin kerja sama dengan 123 perguruan tinggi melalui berbagai program, seperti Kuliah Kerja Nyata (KKN), desalinasi, pendampingan usaha, pendataan rumah tidak layak huni, hingga penanganan stunting.
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi sebelumnya menekankan pentingnya kontribusi perguruan tinggi melalui KKN tematik dan pendampingan desa binaan untuk menjawab tantangan pembangunan daerah. Luthfi menyebutkan sejumlah persoalan, mulai dari banjir rob di wilayah pesisir, pemenuhan kebutuhan tenaga kerja siap pakai, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia, memerlukan dukungan dari berbagai disiplin ilmu sosial dan politik.








