Politik

Survei IPO: Kinerja Amran Terbaik, Raja Juli Terburuk

Survei IPO: Kinerja Amran Terbaik, Raja Juli Terburuk
Daftar Isi
  1. Daftar Menteri Berkinerja Terbaik
  2. Raja Juli dan Natalius Pigai di Kategori Terburuk
  3. Tingkat Pengenalan Menteri oleh Publik

Lembaga riset Indonesia Political Opinion (IPO) merilis hasil survei terbaru terkait persepsi publik terhadap kinerja para menteri di kabinet. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menempati posisi teratas sebagai pejabat yang dinilai berkinerja paling baik, sementara Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menduduki urutan teratas untuk kategori kinerja terburuk.

Daftar Menteri Berkinerja Terbaik

Berdasarkan hasil temuan IPO, Amran Sulaiman menduduki peringkat pertama menteri berkinerja terbaik dengan raihan 33 persen suara responden. Di posisi berikutnya, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengantongi 25,2 persen, diikuti Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dengan 24,5 persen.

Beberapa nama lain yang masuk dalam jajaran menteri berkinerja baik antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia sebesar 21,8 persen, Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebesar 20,5 persen, serta Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Sugiono sebesar 16,1 persen. Selanjutnya, Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mencatatkan 13,8 persen, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian 12 persen, dan Menteri Agama Nasaruddin Umar 10,3 persen.

Sementara itu, terdapat sejumlah menteri yang memperoleh penilaian di bawah 10 persen, seperti Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid sebesar 5,9 persen, Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana 4,6 persen, Menteri Haji dan Umrah Mochamad Irfan Yusuf 4,3 persen, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra 2,8 persen, serta Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto 2,5 persen.

Raja Juli dan Natalius Pigai di Kategori Terburuk

Pada kategori kinerja terburuk, Raja Juli Antoni menduduki posisi puncak dengan dipilih oleh 36,6 persen responden. Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai berada di urutan kedua dengan 21,8 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo sebesar 9,4 persen, Menteri Koperasi Ferry Joko Juliantono sebesar 8,3 persen, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid sebesar 6,5 persen.

Responden juga menilai negatif kinerja Menteri Ketenagakerjaan Yassierli sebesar 5,7 persen, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti sebesar 5,3 persen, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait sebesar 4,2 persen, serta Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi sebesar 3,9 persen. Di sisi lain, sebanyak 32,5 persen responden memilih tidak menjawab atau tidak tahu saat ditanya mengenai menteri berkinerja paling buruk.

Tingkat Pengenalan Menteri oleh Publik

IPO juga memetakan tingkat pengenalan publik terhadap jajaran menteri. Menteri Transmigrasi Iftitah Suryanegara menjadi sosok yang paling jarang atau tidak pernah didengar namanya oleh publik, dengan persentase mencapai 82,5 persen. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifatul Choiry menyusul di urutan kedua dengan 79,2 persen.

Nama-nama lain yang kurang dikenal masyarakat meliputi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Rini Widyantini sebesar 63,4 persen, Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji sebesar 52 persen, dan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy sebesar 51,7 persen. Selain itu, Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mencatat 38,9 persen, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto 36,5 persen, Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia Mukhtarudin 30,7 persen, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya 28,5 persen, serta Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi 21,6 persen. Dalam kategori ini, terdapat 36,1 persen responden yang tidak tahu atau tidak memberikan jawaban.

Survei IPO ini diselenggarakan pada periode 12 hingga 20 Oktober 2026 dengan melibatkan 1.200 responden di seluruh Indonesia. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik multistage random sampling dengan margin of error tercatat sebesar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *