Nasional

Karhutla Gunung Ciremai Belum Padam, 10 Titik Api Disasar

Karhutla Gunung Ciremai Belum Padam, 10 Titik Api Disasar

Kebakaran hutan dan lahan di Gunung Ciremai, Jawa Barat, masih belum berhasil dipadamkan hingga hari ketiga sejak mulai terbakar pada Rabu malam (21/10). Petugas gabungan mengerahkan helikopter water bombing serta metode manual untuk mengatasi sepuluh titik api yang tersisa di kawasan tersebut.

Kendala Pemadaman dan Titik Api

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kuningan, Indra Bayu, menjelaskan bahwa proses pemadaman terkendala oleh tiupan angin yang kencang serta kondisi medan yang terjal. Dari total 13 titik api yang sebelumnya terdeteksi, baru sekitar tiga titik yang berhasil dipadamkan hingga Sabtu (24/10), seperti dilaporkan CNN Indonesia.

Berdasarkan pemantauan menggunakan PUTA dan Drone Thermal pada Kamis (22/10), tercatat ada 13 titik api. Angka tersebut berkurang menjadi 10 titik setelah operasi pemadaman pada Jumat (23/10). Vegetasi yang dilalap si jago merah meliputi semak belukar, alang-alang, serasah kering, serta pohon pinus.

Indra menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memastikan luas total area hutan yang terdampak karhutla ini. Tim gabungan saat ini masih memprioritaskan penanganan dan pemetaan titik-titik api.

Strategi dan Kendala Lapangan

Operasi pemadaman dijalankan melalui dua cara, yaitu pengerahan helikopter water bombing yang difokuskan pada area sulit dijangkau serta pemadaman manual. Tim gabungan yang melibatkan unsur TNGC, TNI, Polri, BPBD, Brigdalkarhutla, Damkar, Tagana, MPA, relawan, serta warga sekitar dibagi ke dalam tiga sektor penanganan, yakni Bukit Seribu Bintang, Karang Dinding, dan Bintangot.

Terkait pemicu kebakaran, Indra menyebutkan bahwa penyebab pasti karhutla masih belum diketahui. Kendati demikian, ia menekankan perlunya perhatian khusus jika ditemukan adanya unsur pelanggaran atau kesengajaan di area perbatasan antara zona tradisional dan zona rimba.

Sementara itu, Humas Masyarakat Peduli Api Silihwangi Majakuning, Asep, menyampaikan bahwa pihaknya terkendala medan terjal dengan jarak jalan kaki mencapai dua hingga tiga kilometer dari bawah. Asep menambahkan bahwa pemadaman konvensional lebih efektif dilakukan pada malam hari saat angin mereda, dengan fokus membuat sekat bakar menggunakan alat seperti arit, pacul, dan panggebuk dari ranting pohon, melibatkan sekitar 1.000 personel gabungan termasuk 177 anggota MPA.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *