Daftar Isi
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto mengungkapkan hasil penelusuran pergerakan kapal MT Global 168 yang diduga digunakan untuk menyelundupkan 1,16 ton ketamin ke Indonesia. Kapal tersebut terdeteksi melakukan berbagai pergerakan tidak biasa di Selat Malaka dan Laut Andaman sebelum akhirnya diamankan di perairan Tanjungbalai Asahan, Sumatra Utara.
Spesifikasi dan Kepemilikan Kapal
Suyudi menjelaskan bahwa kapal MT Global 168 memiliki panjang sekitar 57 meter, lebar 9,02 meter, serta *gross tonnage* (GT) sebesar 370. Kapal tersebut juga memiliki *deadweight tonnage* (DWT) berkisar antara 726 hingga 776 ton.
“Dari spesifikasi fisik, ini sebagai informasi biar kita tahu semua, kapal ini memiliki panjang 56,99 hingga 57 meter, dengan lebar 9,02 meter. Kapal ini juga tercatat memiliki *gross tonnage* atau GT sebesar 370 dan *deadweight tonnage* atau DWT pada kisaran 726 hingga 776 ton,” ujar Suyudi pada Jumat (23/10/2026).
Berdasarkan catatan kepemilikan, kapal itu terdaftar atas nama perusahaan Makmur Marine Petroleum yang beralamat di Johor Bahru, Malaysia. Identitas MT Global 168 sendiri terungkap dari dokumen *docking* yang ditemukan di atas kapal Kusangsing 1 yang sebelumnya ditangkap aparat karena mengangkut 800 kilogram ketamin.
Modus Operandi dan Pemantauan Anomali
Pengungkapan kasus ini berawal dari pemantauan intelijen oleh tim analis Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Bea Cukai terhadap pergerakan anomali kapal tersebut sejak Agustus 2026. Pada September 2026, MT Global 168 berangkat dari lokasi *docking* di Pasir Gudang, Johor, Malaysia, menuju perairan Andaman, Thailand, dengan singgah lebih dulu di Port Klang untuk mengisi air dan bahan bakar minyak.
Kapal kemudian berlayar ke Laut Andaman untuk menerima muatan ketamin melalui metode *ship-to-ship* (STS). Pada minggu kedua Oktober 2026, tim analis mendapati kapal mematikan sistem *Automatic Identification System* (AIS) selama tiga hari 17 jam demi menghindari deteksi aparat penegak hukum.
“Nah, inilah modus-modus para penyelundup itu selalu mematikan AIS pada saat mereka sedang transaksi. Tapi ini jadi bagus juga buat kita, jadi bisa membaca sebuah anomali yang perlu kita ikuti. Nah, kapal selama 3 hari 17 jam, dengan tujuan agar tentunya tidak terdeteksi oleh kita aparat penegak hukum,” papar Suyudi.
Penyergapan dan Penangkapan Awak Kapal
Pemantauan berlanjut tatkala kapal melintasi Selat Malaka, perairan utara Aceh, hingga wilayah perairan terbuka barat Thailand dengan melakukan manuver memutar. Tim gabungan yang terdiri dari BNN, Bea Cukai, dan Bareskrim Polri yang berada di Kuala Tanjung lantas mempersiapkan operasi intersepsi menggunakan kapal Bea Cukai BC 20006 dan KP Murai 4018 sebelum kapal masuk ke Pelabuhan Port Klang.
MT Global 168 akhirnya diamankan di perairan Tanjungbalai Asahan. Dalam pemeriksaan lanjutan, aparat mengamankan delapan awak kapal yang terdiri dari tujuh warga negara Indonesia dan satu warga negara asing asal Taiwan dengan berbagai peran pengoperasian.
Dari penindakan tersebut, aparat mencatat total valuasi barang bukti mencapai Rp3,48 triliun dengan asumsi harga gelap Rp3 juta per gram. Penyadapan jaringan ini juga disebut berpotensi menyelamatkan 5,8 juta jiwa generasi bangsa dari ketergantungan narkotika.
Sumber: Liputan6.com Megapolitan








