Wilayah pegunungan di Tibet diguncang gempa bumi kuat berkekuatan 7 magnitudo yang menyebabkan 16 orang meninggal dunia. Otoritas setempat langsung menetapkan status darurat serta mengerahkan tim penyelamat ke lokasi kejadian akibat puluhan orang mengalami luka-luka dan ratusan bangunan roboh.
Dampak Kerusakan dan Kondisi Lokasi
Pusat gempa terletak di Kabupaten Baqên, wilayah Nagqu, sekitar 400 kilometer di timur laut ibu kota Tibet, Lhasa, dan terjadi pada Kamis malam seperti dilaporkan kantor berita Xinhua mengutip biro manajemen darurat setempat. Berdasarkan laporan media pemerintah China, jumlah korban luka yang awalnya tercatat 32 orang kini bertambah menjadi 54 orang dengan beberapa di antaranya mengalami luka serius.
Selain korban jiwa dan luka, lebih dari 300 hingga 339 rumah dilaporkan ambruk akibat guncangan tersebut. Gempa ini juga memutuskan pasokan listrik di sebagian besar wilayah terdampak serta memutus akses jalan menuju lokasi bencana yang berada di dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 4.800 meter di atas permukaan laut.
Penanganan Darurat dan Respons Pemerintah
Warga sempat berlarian ke jalan saat bangunan berguncang hebat di tengah kegelapan malam, yang kemudian diikuti oleh sejumlah gempa susulan berkekuatan kuat, seperti dilaporkan koresponden BBC News di Beijing, Laura Bicker. Pejabat setempat menaikkan status tanggap darurat dari level IV menjadi level III, di mana level I merupakan respons untuk bencana paling serius dan level IV adalah tingkat terendah dalam sistem penanganan bencana di China.
Sebanyak lebih dari 350 personel beserta 83 kendaraan dari tim pemadam kebakaran dan penyelamatan China telah diterjunkan ke wilayah terdampak untuk melakukan penanganan. Dataran Tinggi Tibet sendiri dikenal sebagai kawasan yang sangat rentan terhadap aktivitas gempa bumi, menyusul peristiwa gempa di Provinsi Gansu pada Desember 2023 yang menewaskan lebih dari seratus orang.
Sebagian besar informasi mengenai bencana ini bersumber dari media pemerintah China, Xinhua, mengingat media tersebut kerap menjadi satu-satunya sumber informasi tentang Tibet, wilayah yang berada di bawah kendali ketat China sejak dianeksasi pada 1950-an.
Sumber: BBC News Indonesia








