Daftar Isi
Gambaran tentang santri yang lekat dengan sarung, peci, kitab kuning, dan rutinitas mengaji masih mendominasi pandangan masyarakat, meski kenyataannya kehidupan di pesantren jauh lebih beragam. Di tengah dunia yang terus berubah, para santri juga dituntut mengembangkan kemampuan dan wawasan untuk menghadapi persaingan global.
Potensi dan Wawasan Luas di Pesantren
Kementerian Agama mencatat terdapat sekitar 42.391 pesantren pada 2026 dengan 4,63 juta santri yang telah terverifikasi berdasarkan nama dan alamat dalam proses pemutakhiran data yang masih berjalan. Besarnya jumlah tersebut menuntut lembaga pendidikan ini untuk tidak sekadar menjaga tradisi keagamaan, tetapi juga menyiapkan santri dalam menghadapi perubahan zaman.
Hafiz, seorang santri Pesantren Buntet yang menerapkan sistem pengajaran salaf atau tradisional, menyatakan kepada Liputan6.com pada Kamis (22/10/2026) bahwa masih ada anggapan keliru mengenai kehidupan santri yang hanya berputar pada pelajaran agama dan bermuara menjadi ustaz atau kiai. Menurut Hafiz, pesantren turut mengajarkan ilmu-ilmu praktis, sosial, hingga sains seperti mantiq atau kaidah berpikir logis dan ilmu falak.
Pendalaman ilmu agama tidak lantas membuat santri menutup diri dari pengetahuan lain. Hafiz menegaskan bahwa fokus utama pada pelajaran agama tidak membatasi wawasan mereka terhadap bidang pengetahuan lainnya.
Belajar Mandiri dan Mengembangkan Kemampuan Diri
Kehidupan jauh dari keluarga menuntut para santri untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, menaati jadwal padat, serta mengurus berbagai kebutuhan secara mandiri. Fakhiroh, santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 1, menuturkan bahwa kehidupan pondok membentuk kebiasaan dan mengenali kemampuan diri melalui pembagian waktu yang disiplin antara belajar dan kewajiban lainnya.
Kemandirian tersebut dilatih melalui pengelolaan keperluan pribadi, pemahaman aturan, serta penyesuaian diri dengan sesama santri yang memiliki latar belakang kebiasaan berbeda. Hidup bersama juga melatih keberanian dalam menyampaikan pendapat, mendengarkan orang lain, serta menyelesaikan persoalan secara bersama-sama dalam dinamika sehari-hari.
Selain kelas formal, kegiatan di pondok juga mencakup pembelajaran bahasa asing, organisasi, kepemimpinan, dan latihan berbicara di depan umum. Keterampilan berorganisasi dan komunikasi ini membantu santri membagi tugas, bekerja sama, bertanggung jawab, serta menyampaikan gagasan secara percaya diri saat berinteraksi di luar lingkungan pesantren.
Beradaptasi dengan Teknologi dan Perubahan Zaman
Perkembangan teknologi dan arus informasi yang cepat menuntut santri untuk memiliki kemampuan menyaring informasi secara bertanggung jawab. Fakhiroh berpandangan bahwa keterbukaan terhadap teknologi harus diimbangi dengan pertimbangan matang agar santri mampu menempatkan pengetahuan secara tepat tanpa meninggalkan nilai-nilai kepesantrenan.
Sementara itu, Hafiz berpendapat bahwa santri tidak boleh cepat merasa puas dengan ilmu yang diperoleh selama di pesantren dan harus berani membuka diri serta mengambil bagian dalam persoalan masyarakat. Ilmu agama tetap menjadi fondasi utama, namun penguasaan keterampilan tambahan seperti teknologi, kewirausahaan, dan komunikasi akan melengkapi bekal mereka dalam menghadapi dunia kerja maupun pendidikan lanjutan.
Sumber: Liputan6.com Peristiwa








