Dunia

Kisah Anak Buronan FBI yang Tumbuh di Bawah Tanah

Kisah Anak Buronan FBI yang Tumbuh di Bawah Tanah
Daftar Isi
  1. Pendidikan Revolusioner Sejak Dini
  2. Strategi Bawah Tanah dan Akses Penyamaran
  3. Dampak Risiko dan Penyerahan Diri
  4. Kehidupan Baru Tanpa Mengubah Keyakinan

Zayd Ayers Dohrn tidak menjalani masa kecil yang lumrah seperti anak-anak pada umumnya. Saat lahir, sang ibu, Bernadine Dohrn, merupakan salah satu buronan yang paling dicari oleh Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat karena memimpin kelompok anti-perang radikal Weather Underground.

Bersama suaminya, Bill Ayers, yang juga pendiri kelompok tersebut, keluarga ini hidup dalam persembunyian menggunakan identitas palsu. Mereka kerap berpindah tempat untuk menghindari penangkapan atas serangkaian aksi pengeboman yang menargetkan gedung-gedung pemerintah, seperti Gedung Capitol, Pentagon, hingga Departemen Luar Negeri.

Pendidikan Revolusioner Sejak Dini

Sejak usia dini, Zayd sudah diajari cara mengenali agen FBI yang menyamar di tengah kerumunan serta berkomunikasi dengan kode rahasia lewat telepon. Dinding kamarnya tidak dihiasi karakter kartun, melainkan potret tokoh revolusioner seperti Che Guevara dan Ho Chi Minh. Orang tuanya menjelaskan status mereka sebagai buronan dengan mengibaratkan diri sebagai Robin Hood yang mencuri dari orang kaya untuk dibagikan kepada orang miskin.

Kedua orang tua Zayd berasal dari keluarga kulit putih kelas menengah yang mapan. Ibunya merupakan mahasiswi hukum berprestasi di Universitas Chicago yang mulai aktif dalam kampanye aktivis setelah kedatangan Dr. Martin Luther King Jr. pada 1966. Pembunuhan King dan penembakan fatal oleh polisi terhadap pemimpin Black Panther, Fred Hampton, semakin mendorong ibunya ke arah gerakan militan.

Sementara itu, penolakan terhadap Perang Vietnam dan wajib militer menjadi alasan utama sang ayah bergabung. Kelompok ini mengusung slogan untuk membawa suasana perang ke jalanan Amerika demi menyadarkan publik atas tindakan pemerintah di luar negeri maupun terhadap kelompok kulit hitam di dalam negeri.

Strategi Bawah Tanah dan Akses Penyamaran

Kelompok Weather Underground memanfaatkan status sosial mereka sebagai warga kulit putih berpendidikan untuk menyusup ke fasilitas pemerintah tanpa memicu kecurigaan. Para anggota perempuan sering menyamar sebagai sekretaris untuk memetakan situasi dan menanam bahan peledak di area terpencil, seperti toilet wanita.

Keuntungan status rasial tersebut juga digunakan untuk mendampingi kelompok aliansi Black Liberation Army. Aktivis kulit putih ini membantu aksi-aksi ilegal, termasuk menjadi pengemudi saat membantu tahanan melarikan diri dari penjara.

Kepada program Outlook di BBC World Service, Zayd mengungkapkan bahwa perjalanan keluarga mereka selalu diisi dengan agenda revolusioner. Dibandingkan mengunjungi tempat wisata umum, orang tuanya membawa Zayd melintasi lokasi-lokasi sejarah perjuangan, seperti tempat terbunuhnya Fred Hampton, lokasi eksekusi gantung John Brown, hingga kawasan pemberontakan budak yang dipimpin Nat Turner.

Bahkan, sebuah perjalanan berkemah yang pernah diikutsertakan Zayd ternyata berjarak kurang dari satu kilometer dari sebuah penjara federal. Orang tuanya memanfaatkan momen liburan tersebut untuk mengintai penjara tempat seorang anggota Black Panther ditahan demi merencanakan upaya pelarian.

Dampak Risiko dan Penyerahan Diri

Meskipun kelompok tersebut selalu mengatur waktu ledakan saat gedung dalam keadaan kosong dan memberikan peringatan terlebih dahulu, Zayd menyadari bahwa aksi kekerasan tetap membawa risiko tragis. Sebelum ia lahir, sebuah ledakan tidak sengaja saat merakit bom telah menewaskan kekasih ayahnya kala itu beserta dua anggota kelompok lainnya.

Keputusan untuk menyudahi masa pelarian diambil setelah adik laki-laki Zayd lahir. Bernadine memilih menyerahkan diri kepada pihak berwenang agar anak-anaknya dapat hidup lebih normal. Walau sempat terbebas dari jerat hukum akibat kesalahan prosedur dan metode ilegal dalam penyelidikan FBI, ia akhirnya dipenjara selama hampir satu tahun karena menolak bersaksi melawan rekan-rekannya.

Selama ibunya mendekam di penjara, ayah Zayd harus mengasuh dirinya, adiknya, serta seorang anak dari aktivis lain yang juga ditahan. Dari balik jeruji besi, sang ibu rutin mengirimkan surat untuk menjelaskan alasannya kepada Zayd yang saat itu baru berusia lima tahun.

Kehidupan Baru Tanpa Mengubah Keyakinan

Kini kedua orang tua Zayd telah memasuki usia 80-an tahun. Setelah mengakhiri aktivitas di gerakan bawah tanah, ibunya berprofesi sebagai profesor hukum dan mengelola klinik hukum selama empat dekade untuk membantu warga yang menjadi korban ketidakadilan sistem peradilan pidana, sedangkan ayahnya menjadi profesor yang berfokus pada reformasi pendidikan publik.

Zayd menuturkan bahwa meski metode perjuangan kedua orang tuanya kini telah berubah, prinsip dan keyakinan politik mereka tetap tidak tergoyahkan.

“Mereka akan tersinggung jika ada yang menyebut mereka moderat atau liberal,” kata Zayd.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *