Wilayah Pulau Flores dan area sekitarnya di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih terus dilanda rentetan lindu setelah diguncang gempa berkekuatan M7,7 pada Agustus lalu.
Catatan Gempa Terkini dan Imbauan BMKG
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sejumlah getaran pada Senin (19/10). Gempa yang tercatat meliputi M4,8 pada pukul 16.45 WIB, M4,7 pada pukul 17.10 WIB, serta M4,5 pada pukul 19.06 WIB. Pusat getaran berada sekitar 45 hingga 60 kilometer di perairan utara Labuan Bajo dengan kedalaman dua lindu di antaranya mencapai 5 kilometer. Getaran tersebut terukur pada skala MMI II di Kabupaten Manggarai dan dipastikan tidak berpotensi tsunami.
Pada hari sebelumnya, Minggu (18/10), wilayah tersebut juga mengalami dua gempa dengan kekuatan tertinggi M5,3 pada pukul 15.00 WIB. Lindu berkedalaman 10 kilometer yang berpusat 60 kilometer dari Labuan Bajo itu dirasakan pada skala MMI IV-V di Manggarai, serta skala MMI III di Manggarai Barat dan Bima.
Kepala Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menerangkan bahwa rangkaian guncangan ini merupakan susulan dari peristiwa gempa besar M7,7 yang terjadi di Flores pada 15 Agustus 2026 akibat aktivitas sesar Flores Back-Arc Thrust dengan mekanisme pergerakan naik.
“Kegempaan ini adalah fenomena wajar sebagai proses pelepasan energi bertahap pascagempa utama. Hingga hari ini, kami mencatat sudah terjadi lebih dari 22.300 kali gempa susulan di wilayah tersebut, dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2,” ujar Arief dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/10).
Menghadapi potensi bahaya lanjutan, BMKG mengimbau masyarakat untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat getaran sebelumnya, tidak terpengaruh oleh kabar yang belum jelas kebenarannya, serta memantau pemutakhiran data secara berkala lewat kanal resmi.








