Daftar Isi
Pemerintah Prancis mendesak sejumlah penyedia platform jual-beli daring untuk segera membersihkan penawaran barang hasil penjarahan dari demonstrasi yang berujung kerusuhan. Langkah penertiban ini diambil setelah lebih dari 3.000 pelaku usaha dilaporkan mengalami kerusakan akibat aksi anarkistis tersebut.
Pertemuan Khusus dengan Pengelola Platform
Kementerian Perdagangan Prancis mengundang perwakilan dari Amazon, eBay, Vinted, Leboncoin, Meta, TikTok, dan asosiasi ritel daring Fevad untuk menghadiri rapat koordinasi bersama pejabat Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kehakiman. Pemanggilan dilakukan menyusul maraknya tangkapan layar di media sosial yang memperlihatkan barang-barang dugaan hasil jarahan dijual secara bebas di internet.
Menteri Digital Prancis Anne Le Henanff, seperti dilaporkan detikcom dari AFP, menegaskan melalui platform X bahwa penawaran barang curian pascakerusuhan akhir pekan tidak boleh dibiarkan beredar. “Kami berharap platform-platform ini menghapus penawaran yang dimaksud tanpa penundaan,” tuturnya.
Ia juga menambahkan arahan hukum bagi perusahaan-perusahaan teknologi tersebut. “Mereka juga akan diwajibkan untuk bekerja sama secara erat dengan pihak berwenang negara agar mereka yang menjual kembali barang curian dapat diproses hukum,” tambah Le Henanff.
Respons Pengelola E-Commerce
Pihak Vinted menegaskan pihaknya menerapkan kebijakan nol toleransi terhadap peredaran barang ilegal dan telah meningkatkan pengawasan. Manajemen platform barang bekas tersebut menuturkan bahwa tim mereka bergerak cepat menyisir serta menghapus daftar penawaran yang terindikasi memuat barang curian, sembari terus berkoordinasi erat dengan aparat penegak hukum.
Sementara itu, eBay mengonfirmasi bahwa mereka belum mendeteksi adanya peningkatan penawaran barang yang terkait pencurian. Kendati begitu, eBay memastikan pengawasan tetap berjalan menggunakan sistem teknologi proaktif untuk menyaring dan mendeteksi penjualan barang hasil tindak kriminal.
Kericuhan Protes Biaya Hidup
Gelombang demonstrasi nasional pada Sabtu (17/10) mulanya dipicu oleh kemarahan warga terkait lonjakan biaya hidup dan harga bahan bakar minyak sebelum akhirnya berubah menjadi ricuh. Presiden Prancis Emmanuel Macron sempat mengecam adanya kelemahan intelijen dan antisipasi oleh aparat, kendati dirinya menolak usulan pengunduran diri Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez di tengah kritik keras kelompok oposisi.
Data Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat hampir 2.400 orang telah ditangkap terkait aksi anarkistis tersebut, sementara korban luka dari kalangan polisi serta gendarme tercatat mendekati 1.000 personel.
Sumber: News - Detikcom





