Olahraga

Usai Juarai FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Pekerjaan Besar Timnas Indonesia Menuju Piala Asia 2027

Timnas Indonesia Menuju Piala Asia 2027
Timnas Indonesia Menuju Piala Asia 2027
Daftar Isi
  1. Dari Trofi Regional ke Tantangan Asia
  2. Jalan Indonesia Menjadi Juara Juga Menyimpan Catatan
  3. Pekerjaan Herdman: Bukan Sekadar Menambah Pemain
  4. Masalah yang Tidak Bisa Ditutup oleh Euforia Juara
  5. Grup F Mengharuskan Indonesia Naik Level
  6. Trofi ASEAN Memberikan Modal yang Tidak Kecil
  7. Dari Juara ASEAN Menuju Target yang Lebih Besar
  8. Januari Akan Menjadi Ujian Sebenarnya

Gelar juara FIFA ASEAN Cup 2026 akhirnya menjadi milik Indonesia. Namun, trofi yang diraih setelah melewati final dramatis melawan Thailand justru membuka pekerjaan yang lebih besar bagi John Herdman dan anak asuhnya. Piala Asia 2027 sudah menunggu dengan lawan yang jauh lebih berat: Jepang, Qatar, dan Thailand.

Indonesia memastikan gelar pada Senin, 5 Oktober 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Setelah bermain 2-2 selama 120 menit, Indonesia menang 4-2 melalui adu penalti. Emil Audero menjadi salah satu penentu kemenangan setelah menggagalkan tendangan Nattapong Sariya.

Kemenangan tersebut bersejarah karena Indonesia menjadi juara edisi perdana FIFA ASEAN Cup. Tetapi jika turnamen regional itu dibaca sebagai bagian dari proses menuju level Asia, hasilnya menyimpan dua sisi sekaligus: kepercayaan diri meningkat, sementara sejumlah persoalan permainan masih terlihat jelas.

Dari Trofi Regional ke Tantangan Asia

Indonesia tidak memasuki Piala Asia 2027 sebagai tim yang sekadar mencari pengalaman. Tiket ke turnamen tersebut sudah dipastikan sejak kualifikasi Piala Dunia 2026, ketika kemenangan 2-0 atas Filipina pada Juni 2024 memastikan Indonesia melaju ke putaran berikutnya sekaligus mengamankan tempat di Piala Asia 2027.

Undian di Riyadh pada Mei 2026 kemudian menempatkan Indonesia di Grup F bersama Jepang, Qatar, dan Thailand. Jepang merupakan salah satu kekuatan utama Asia, sementara Qatar datang sebagai juara Piala Asia 2019 dan 2023. Thailand menjadi lawan yang sudah sangat dikenal Indonesia di kawasan Asia Tenggara.

Konstelasi itu membuat keberhasilan di FIFA ASEAN Cup tidak bisa dijadikan ukuran tunggal mengenai kesiapan Indonesia.

Kesit B. Handoyo, pengamat sepak bola yang dikutip Media Indonesia, menilai keberhasilan menjuarai FIFA ASEAN Cup dapat menjadi alat ukur bagi Indonesia sebelum menghadapi persaingan yang lebih tinggi di Piala Asia. Namun, level kompetisi berikutnya jelas berbeda.

Di titik inilah pekerjaan Herdman menjadi lebih rumit. Ia tidak lagi sekadar membangun tim yang mampu memenangkan pertandingan di Asia Tenggara, tetapi harus membentuk skuad yang mampu bertahan secara taktik, fisik, dan mental ketika menghadapi lawan dengan kualitas individu dan organisasi permainan yang lebih tinggi.

Jalan Indonesia Menjadi Juara Juga Menyimpan Catatan

Perjalanan Indonesia menuju gelar FIFA ASEAN Cup tidak sepenuhnya mulus.

Pada fase grup, Indonesia mengalahkan Singapura 2-0, bermain imbang 0-0 melawan Malaysia, kemudian membutuhkan kemenangan besar 9-2 atas Bangladesh untuk memastikan tiket ke final. Kemenangan atas Bangladesh juga membuat Indonesia menyamai Malaysia dalam perolehan poin dan harus unggul dalam produktivitas gol untuk lolos. FIFA mencatat Indonesia mencetak sembilan gol dalam pertandingan tersebut dan menjadi tim dengan produktivitas tertinggi di fase grup.

Artinya, gelar tersebut memang sah dan layak dirayakan. Namun, angka kemenangan besar 9-2 tidak serta-merta menggambarkan dominasi Indonesia terhadap seluruh lawan.

Hal itu terlihat lebih jelas di final.

Indonesia mampu mencetak gol lebih dahulu melalui Dean James pada menit ke-84. Thailand kemudian menyamakan kedudukan tiga menit berselang. Di babak tambahan, Thailand bahkan kembali memimpin sebelum Elkan Baggott mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-116. Pertandingan akhirnya ditentukan lewat adu penalti.

Ada satu fakta yang membuat evaluasi menjadi penting: Thailand bermain dengan 10 pemain pada sekitar 10 menit terakhir waktu normal setelah Nicholas Mickelson menerima kartu kuning kedua. Indonesia tetap tidak mampu mengakhiri pertandingan sebelum babak tambahan.

Ini bukan berarti kemenangan Indonesia kehilangan nilainya. Justru sebaliknya, pertandingan tersebut memperlihatkan kemampuan mental untuk bertahan dalam situasi sulit. Tetapi dari sudut pandang persiapan Piala Asia, laga tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia masih membutuhkan peningkatan kualitas permainan ketika lawan mampu bertahan rapat dan mengubah momentum pertandingan.

Pekerjaan Herdman: Bukan Sekadar Menambah Pemain

John Herdman sendiri tidak melihat komposisi FIFA ASEAN Cup sebagai bentuk akhir skuad Indonesia.

Seusai menjadi juara, pelatih asal Inggris itu mengatakan Indonesia akan menyambut sejumlah pemain baru dalam beberapa bulan ke depan. Pemain yang belum pernah bekerja sama dengannya maupun pemain yang kembali setelah cedera masuk dalam rencana tersebut. Jay Idzes disebut sebagai salah satu pemain yang akan kembali setelah absen di FIFA ASEAN Cup.

Herdman juga menyatakan tim telah merencanakan dua pertandingan pada kalender internasional November. Menurutnya, laga tersebut akan dimanfaatkan untuk memperoleh lebih banyak pengalaman turnamen bersama kelompok pemain inti.

Rencana tersebut penting karena jeda menuju Piala Asia tidak panjang. Piala Asia 2027 akan berlangsung mulai 7 Januari hingga 5 Februari 2027. Dengan pertandingan pertama Indonesia melawan Jepang pada 11 Januari, ruang untuk melakukan eksperimen setelah memasuki akhir tahun semakin terbatas.

Karena itu, agenda November seharusnya tidak sekadar menjadi rangkaian pertandingan persahabatan. Bagi Herdman, laga tersebut merupakan kesempatan menentukan siapa pemain yang benar-benar cocok dengan sistem permainan yang akan dibawa ke Arab Saudi.

Masalah yang Tidak Bisa Ditutup oleh Euforia Juara

Evaluasi terhadap Indonesia sebenarnya sudah muncul sebelum FIFA ASEAN Cup.

Kegagalan Indonesia melewati fase grup Piala AFF 2026 memperlihatkan persoalan kedalaman skuad. Pengamat Anton Sanjoyo menilai Piala Asia seharusnya menjadi tolok ukur utama pembangunan tim Herdman, sementara kegagalan menghadapi pertahanan lawan di level ASEAN menunjukkan bahwa pemain pelapis masih membutuhkan peningkatan.

Setelah FIFA ASEAN Cup berakhir, evaluasi tersebut belum sepenuhnya hilang.

Pengamat Gusnul Yakin, misalnya, menyoroti tiga aspek yang perlu ditingkatkan, yakni fisik, taktik, dan teknik. Ia menilai lini belakang Indonesia masih rentan ketika menghadapi serangan balik dan pola serangan terlalu banyak mengandalkan sisi sayap. Ia juga melihat kondisi fisik menjadi persoalan karena permainan Indonesia dinilai menurun pada fase akhir pertandingan.

Penilaian tersebut merupakan perspektif pengamat, bukan fakta statistik resmi pertandingan. Namun, menariknya, sebagian kekhawatiran itu beririsan dengan apa yang terlihat di final: Indonesia menghadapi kesulitan mempertahankan keunggulan dan pertandingan akhirnya berjalan sampai 120 menit.

Ketua PSSI Erick Thohir juga mengakui masih terdapat banyak titik kelemahan yang harus diperbaiki bersama Herdman sebelum Piala Asia. Ia menyebut pengalaman menghadapi Thailand sebagai pelajaran bagi pemain dan pelatih.

Dengan kata lain, federasi sendiri tidak membaca trofi ASEAN sebagai tanda bahwa pekerjaan sudah selesai.

Grup F Mengharuskan Indonesia Naik Level

Peta lawan Indonesia di Piala Asia 2027 memberikan gambaran mengenai besarnya tantangan.

PertandinganTanggalStadion
Jepang vs Indonesia11 Januari 2027Prince Abdullah Al Faisal, Jeddah
Indonesia vs Qatar16 Januari 2027Aramco Stadium, Khobar
Thailand vs Indonesia20 Januari 2027King Abdullah Sports City, Jeddah

Jadwal tersebut menempatkan Jepang sebagai ujian pertama. Lima hari kemudian Indonesia menghadapi Qatar, sebelum menutup fase grup melawan Thailand.

Format Piala Asia memberikan dua tiket otomatis kepada dua tim teratas dari setiap grup, sementara empat peringkat ketiga terbaik juga lolos ke babak 16 besar. Karena itu, Indonesia tidak harus menjadi juara Grup F untuk melanjutkan perjalanan. Namun, margin kesalahan tetap kecil karena setiap poin dan selisih gol dapat menentukan nasib tim.

Di sinilah pengalaman dari FIFA ASEAN Cup menjadi relevan.

Indonesia sudah belajar bagaimana tekanan pertandingan menentukan hasil. Tim juga mendapatkan pengalaman bermain dalam turnamen dengan target yang jelas. Namun, pengalaman tersebut harus diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas permainan.

Melawan Jepang, misalnya, Indonesia kemungkinan akan menghadapi tekanan dengan intensitas dan kualitas individu yang berbeda dari sebagian besar lawan di ASEAN. Menghadapi Qatar juga berarti berhadapan dengan tim yang memiliki pengalaman sebagai juara Asia dua edisi beruntun.

Sementara Thailand, yang baru saja dikalahkan Indonesia di final FIFA ASEAN Cup, akan kembali bertemu hanya beberapa bulan kemudian.

Trofi ASEAN Memberikan Modal yang Tidak Kecil

Meski banyak pekerjaan rumah, keberhasilan menjadi juara tetap memberikan modal penting.

Pertama adalah kepercayaan diri. Indonesia berhasil memenangkan pertandingan final yang berlangsung 120 menit dan ditentukan melalui adu penalti. FIFA mencatat kemenangan tersebut mengakhiri penantian Indonesia setelah sejumlah pertemuan sebelumnya dengan Thailand berakhir mengecewakan.

Kedua adalah pengalaman menghadapi tekanan sebagai tuan rumah. Stadion penuh dan ekspektasi publik justru dapat menjadi tekanan tambahan. Indonesia mampu melewati situasi tersebut.

Ketiga adalah semakin jelasnya kebutuhan akan kedalaman skuad. FIFA ASEAN Cup memberikan kesempatan kepada Herdman untuk melihat kombinasi pemain yang tersedia sebelum memasuki fase persiapan terakhir menuju Piala Asia.

Namun, modal tersebut hanya akan berarti jika digunakan untuk memperbaiki kelemahan yang teridentifikasi.

Dari Juara ASEAN Menuju Target yang Lebih Besar

FIFA ASEAN Cup juga memiliki arti yang lebih luas dalam pembangunan sepak bola Indonesia. FIFA mencatat turnamen tersebut merupakan edisi perdana yang melibatkan 14 negara dan dirancang sebagai kompetisi regional baru. Indonesia menjadi salah satu tuan rumah dan akhirnya menjadi juara pertama.

Tetapi bagi tim nasional, nilai terbesar turnamen itu bukan semata-mata trofinya.

Indonesia membutuhkan pertandingan kompetitif untuk membangun tim setelah memasuki siklus baru.

Herdman sebelumnya telah menempatkan Piala Asia sebagai tahapan penting menuju target jangka panjang, termasuk upaya membangun tim untuk agenda yang lebih besar setelah 2027.

Karena itu, keberhasilan di ASEAN harus ditempatkan sebagai satu bagian dari proses, bukan tujuan akhir.

Januari Akan Menjadi Ujian Sebenarnya

Indonesia kini memiliki waktu kurang lebih tiga bulan untuk mengubah status sebagai juara Asia Tenggara menjadi tim yang siap bersaing di level kontinental.

Pertandingan November akan menjadi kesempatan terakhir yang relatif ideal untuk menguji komposisi, sementara pemusatan latihan berikutnya harus diarahkan pada penyempurnaan sistem permainan.

Pemain yang kembali dari cedera juga harus segera menyatu dengan struktur yang telah dibangun.

Herdman memiliki keuntungan berupa momentum positif. Tetapi momentum tersebut sekaligus membawa tuntutan lebih tinggi. Setelah Indonesia mengangkat trofi di depan publik sendiri, ekspektasi terhadap tim nasional otomatis meningkat.

Piala Asia 2027 akan memperlihatkan apakah gelar FIFA ASEAN Cup benar-benar menjadi pijakan menuju level berikutnya atau hanya menjadi keberhasilan regional yang berdiri sendiri.

Jawabannya tidak akan ditentukan oleh seberapa besar Indonesia merayakan trofi di Jakarta, melainkan oleh seberapa banyak pelajaran dari turnamen tersebut yang berhasil diubah menjadi perbaikan sebelum menghadapi Jepang pada 11 Januari 2027.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *